Pendurhaka
Cerita pendek karya Nh. Dini (1951)
-Bagi Warti teman sekamar, bagi Ajeng di perbatasan
“Kau harus pulang, Ati. Kau sudah cukup meremukkan hati ibu. Sekali ini kau harus benar-benar mengerti, bahwa kau sudah besar, sudah tak patut lagi untuk tiap kali membantah kata orang yang lebih tua darimu. Kalau dulu kau selalu ingin menang saja, kau tahanlah keinginan itu. Kau sudah cukup tahu bagaimana hati ibu karena kelakuanmu,” dan dia terus mendesakku dengan kata-katanya yang dianggapnya menasehati aku.
Aku hanya diam. Diam saja sambil memandang keluar pintu. Dalam hati aku tersenyum. Senyum besar menyenyumi segala bicara orang yang ada di mukaku ini. Dia lahir jauh sebelum aku. Lahir dari satu kandungan dengan aku. Dan orang sebut, dia saudaraku. Mungkin. Sebab aku tak tahu atau tak lihat sendiri bahwa dia lahir sebelum aku dari satu kandungan pula dengan aku. Dia saudaraku. Ya, kakakku menurut kata orang.
Satu dari lima orang kakakku.
Jangan kau abaikan kata-kataku ini, karena semua yang kukatakan hanya untuk kebaikanmu sendiri. Kau harus mengerti, Yati. Ibu sudah tua. Tinggal kau lagi yang dipikirkannya. Tapi kau malahan tak berusaha untuk menyenangkan hatinya.”
Sebetulnya aku sudah tak tahan mendengar kata-katanya. Aku memang tak bisa diam saja jika bicara dengan orang macam dia. Aku selalu ingin mendekat atau membantahnya. Karena mana ada seorang ibu hanya pikirkan seorang anaknya saja padahal dia punya enam orang anak. Dan ibuku hanya tinggal pikirkan aku lagi? Hatiku ketawa geli mendengar ini. Tidak! Tak mungkin ibu cuma pikiri aku. Kakakku lima orang. Tapi, biarlah. Kubiarkan saja dia berbicara semau hatinya.
“Tiap kali aku katakan padamu dalam surat, bahwa kau disuruh pulang oleh ibu. Tidak hanya ibu, tapi seluruh keluarga memikirkan kau. Dan mengharap benar supaya kau pulang ke rumah. Tak pantas lagi kau bekerja terus dengan tenagamu yang serba lemah. Kau harus pula ingat kata nenek. Harus kau ingat apa kata segenap anggota keluargamu,” dia mulai keras bicaranya. Hatinya kesal barangkali.
“Apa kata mereka?” tanyaku acuh tak acuh.
“Kau anak yang tak tahu budi. Kau tak tahu membalas jasa orang tua. Kau anak yang melangkahkan kaki dari adat. Ya, macam-macam lagi kata mereka. Ingati benar, Yati. Kau anak perempuan dalam keluarga kita. Kau mesti menurut segala aturan-aturan keluarga.”
Hatiku serasa ditarik mendengar katanya yang akhir ini. Tapi bukan darah yang mengalir. Cuma terasa sentakan sedikit. Dan kutahan benar supaya aku tetap tenang. Aku diam dan tak menyahuti kata-katanya.
Melihat aku diam, dia mengharapkan suatu kemenangan.
“Kau perempuan, Yati. Tak patut terus bersendiri macam ini.”
“Bersendiriku bukan mengganggu kepentingan orang lain,” aku mulai mematahkan harapannya yang tergambar pada mukanya.
Dia agak terkejut mendengar jawabanku yang tiba-tiba ini. Dan aku tambahkan:
“Hidupku bukan lagi kini kepunyaan ibu atau keluarga. Bukan pula kepunyaanku. Tapi hidup dan adaku kini kepunyaan negara, kepunyaan bangsa, kepunyaan tanah air ini. Segala yang kulakukan bukan untuk kepuasanku semata. Aku ingin bekerja. Dan bekerjaku ini juga harus berisi dengan bakti.”
“Tapi kau lupa siapa yang membesarkan kau,” selanya.
“Aku ingat siapa yang membesarkan aku. Bahkan tahu dengan pasti. “
“Siapa?”
“Orang tua,” jawabku tenang.
“Kau abaikan jasa orang tua itu?”
“Tidak! Juga aku tak hendak menyanjung jasa ibu, sebab aku tahu orang tua membesarkan serta mengusahakan kebesaran anaknya itu sudah kewajibannya.”

“Alasan untuk menyatakan kau tak mau pulang, Yati. Gampang memang mengatakan yang tidak-tidak untuk jadi alasan.” Dia mulai kesal lagi.
“Mengapa pula kau kata alasan yang tidak-tidak? Aku berbuat apa yang baik menurut pendapatku. Segala sesuatu kuperhitungkan dengan guna adaku di dunia ini.
Aku jaga benar supaya aku tak terdesak oleh bicaranya. Dan kuusahakan pula supaya dia mengerti segala kataku.
Memang surat-suratnya yang datang padaku selalu menyuruhku pulang, menyuruh datang lagi ke rumah yang dulu, tempatku tiga tahun yang lalu. Sangat lama waktu tiga tahun itu bagi orang yang masih merasa mempunyai ikatan dengan yang tinggal di rumah itu. Tapi bagiku tidak. Aku merasa tak perlu datang ke rumah itu lagi. Kalaupun aku datang ke sana, aku tak hendak memakai kata “pulang”. Sebab memang itu bukan rumahku. Itu rumah keluarga, rumah bunda yang mungkin kini sudah tua sekali. Ya, rumah orang dalam jumlah yang tak sedikit dan yang selalu saling memikiri karena rumah itu dianggap benda warisan ayah.
“Untuk waktu-waktu macam ini kau harus bisa mengesampingkan napsu bicaramu. Kau ingat dengan siapa kau bicara? Patutkah anak kecil macam kau ini selalu membantah omongan orang tua? Kau sudah begitu jauh berada dalam pergaulan serba tidak beraturan. Sudah lupa adatmu sendiri kalau di rumah.” Matanya melihat kepadaku dengan tajam.
Dia betul-betul marah rupanya.
Aku diam. Tak guna kusahuti bicaranya itu, sebab aku memang merasa terlalu tidak tahu bagaimana caraku kalau aku bicara dengan orang macam dia, orang keluarga. Aku jarang bergaul dengan mereka. Sekolah rakyat enam tahun kulanjutkan dengan sekolah guru, dan aku selama itu tinggal di asrama. Lingkungan rumah yang kujumpai di hari-hari libur sangat tidak mengenakkan hati. Kemudian hari-hari libur kuhabiskan di rumah teman-temanku di desa-desa yang jauh melegakan dari pada keadaan rumah bunda, rumah keluarga.
“Mereka mengharap kedatanganku di rumah itu,” hatiku mengulang kata kakakku tadi.
“Bunda sudah tua,” lagi hati bicara sendiri. Ya bunda tentu sudah tua, sudah makin menjadi pula sifat pemarahnya. Seperti nenek juga tentu dia. Bunda menyuruhku kembali ke rumah dulu. Aku tak tahu untuk apa. Dan aku ingat benar bagaimana ketiga orang kakakku perempuan dipaksa menuruti kehendak bunda. Mematuhi perintah orang tua, katanya.
“Tidakkah kau sadari bahwa kau mendurhaka, Yati?” katanya tiba-tiba setelah kami, aku dan dia, diam lama sekali. Mukanya masih marah seperti tadi.
“Tidak,” jawabku tenang.
“Aku tak tahu kenapa ibu dulu punya anak kau.”
“Itu satu kebetulan.”
“Tapi cuma kau yang membelok bikin aturan sendiri, lain-lainnya tak ada yang seperti kau.”
“Ya, karena lain-lainnya takut dan menjadi pengecut hatinya sendiri.”
“Apa?” matanya terbelalak.
Aku tersenyum dan kujelaskan:
“Karena kalian penakut dan penipu hati sendiri. Tak kau rasa bahwa jalan yang lurus selalu menjemukan? Kekakuan pada setiap perbuatanmu sendiri sudah bisa menonjolkan sifat yang tertanam padamu.”
“Kau ajari orang tua.”
“Kalau perlu. Aku juga mengajar orang tua di samping murid-muridku yang kecil-kecil. Perpaduan keduanya membikin aku makin tahu dan mengerti jiwa masing-masing orang.”
“Kau jadi sekurang ajar ini, Yati. Apa yang kau peroleh dari pekerjaanmu mengajar di kota sempit ini?”
“Kau tak boleh memberi anggapan dengan gampang, kak.” kataku dengan tenang.
“Kau katakan tadi aku anak kecil. Sedang tadi sudah pula kausebut-sebut bahwa aku sudah besar. Alangkah sukar untuk berpegang pada perkataanmu yang sangat bertentangan itu. Ya, aku tahu bahwa aku sudah besar. Seperti kau kata tadi. Dan aku sadari benar dengan besarku itu aku mendukung satu kewajiban yang tak akan habis sebelum matiku. Berikan segala hak sepenuhnya kepadaku kalau kau anggap aku sudah besar. Aku sudah mengerti dan tahu memilih jalan sendiri. Aku bekerja dengan segenap rasa tanggung jawabku meskipun di kota sempit tapi penuh jiwa luas. Tidak dengan kedangkalan-kedangkalan yang berlingkung pada rumahmu, rumah keluarga.”
“Aku bosan dengan tonjolan-tonjolan kewajiban yang jadi sanjunganmu itu.”
“Juga aku bosan dengan sanjunganmu terhadap tundukan perintah orang-orang tua,” cepat aku menyela. “Kalau dalam kebosanan itu aku selalu diam dan mendengarkan dan pikirkan segala omonganmu, kenapa kau tidak mau pula pikirkan pendapatku, pendapat orang-orang muda yang sama dengan aku. Kau tak adil, kak. Juga aku heran kenapa kau begitu bersitegang pada tonggak-tonggak keluarga. Kau cukup lanjut bersekolah. Lebih tinggi dariku. Kau setingkat SMA. Sedangkan aku cuma SGB setingkat SMP. Ya, tak usah kau jelaskan aku sudah tahu. Kau terlalu berhati-hati karena kau anggap dirimu sebagai ganti ayah dalam rumah itu. Kau ikut turut dengan membuta segala kata ibu. Ya, kau memang anak yang manis.” Aku ketawa mengejeknya.
“Kau begitu lancang. Berani mengaduk-aduk hal-hal yang telah lalu dan mengejekku pula,” suaranya geram. Dia kalau-kalau marahnya terdengar orang rumah tempatku menumpang.
“Mengapa tidak. Kau anak laki-laki dari keluarga. Sanggup mengada yang tiada,” aku mencibirkan bibirku mengejeknya.
Aku ingat, bunda selalu mendahulukan anaknya laki-laki dalam hal yang enak. Bunda perbuat apa yang nenek perbuat terhadapnya dulu. Ah! Bunda sangat tidak tahu cara hidup dan bergaul orang-orang jaman kini. Sejak ayah meninggal tak tahu bahwa hidup terserak di mana-mana, tidak hanya di lingkung rumah keluarga itu saja. Bunda tak tahu pula bahwa anaknya yang lari dari rumah hanya untuk mencari hidup yang sebenarnya hidup.
“Juga sanggup memaksa kau untuk melurusi adat,” dia sahuti omonganku.
“Kau dapat buktikan?”
“Aku mesti menang.”
“Keyakinanmu kau lumuri dengan bujukan hatimu sendiri,” aku tetap tenang.
“Aku berbuat karena wajib yang dibebankan keluarga.”
“Dan kau jadi corong mereka.”
“Aku malu punya saudara seperti kau. Sudah besar bekerja jauh dari rumah dan mengabaikan hukum agama.”
“Kau boleh tak punya saudara aku,” aku mulai bersungguh-sungguh. “Kau boleh anggap aku tak ada. Juga seluruh keluarga bisa menganggapku tak ada. Karena adaku toh hanya bikin pikiran mereka saja. Aku tak membutuhi kasihan atau pemikiran mereka. Kau terlalu mendewakan segala aturan keluarga. Terlalu mempertuhan keluarga. Sampai-sampai kau tak sadar bahwa kau bersama mereka telah mencabik-cabik tiga hati perempuan. Hati kakak-kakakku. Kau bersama ibu membikin gelanggang tontonan dengan darah perasaan perempuan. Ya! kau laki-laki. Kau tak tahu bagaimana hati perempuan.”
Dadaku sangat sesak. Amat banyak yang hendak kulemparkan ke muka hatinya. Hati yang puas kalau sudah bisa menekuk-lututkan perasaan bebas.
“Aku mengerti kenapa mereka menyuruhku kembali ke rumah dulu. Surat-surat yu Asih sudah katakan, bahwa mereka menyibukkan diri dengan membicarakan diriku. Mereka mau kawinkan aku. Benar,” aku ketawa sepuas hati. Ketawa ejekan yang membikin dia melongo tak mengerti. Tolol betul mukanya.
“Yati! Kenapa kau ketawa?”
Kau tak ingat bagaimana yu Asih menangis terus menerus setelah dia tahu bahwa dia akan dikawinkan dengan orang yang sama sekali belum dikenalnya?” tanyaku.
Dia diam.
“Kalau dia menangis, kini aku ketawa. Aku ketawakan mereka yang begitu bersusah payah untukku. Untuk orang durhaka. Untuk orang yang tak tahu membalas budi,” aku pandang dia dengan tajam.
“Tidak! Mereka telah membuang-buang waktu karena pikirkan orang durhaka. Juga kau telah terlalu berani untuk membuktikan kemenangan datangmu kemari,” kualihkan pandangku keluar pintu.
Suasana percakapan yang tadi keras lawan tenang, kini berubah menjadi tegang. Sudah cukup aku memberi harapan padanya. Aku kasihan karena dia terlalu percaya kepada kekuasaannya sebagai utusan keluarga, pesuruh bunda.
Pikiranku berputar antara ketiga kakakku perempuan. Ya, mereka perempuan, sama dengan aku. Masing-masing mempunyai kelemahan dan hati perempuan. Ketiga-tiganya dijadikan tontonan keluarga, dijadikan boneka yang tak boleh bercinta.
Yu Asih. Dia kakakku sulung. Hatinya yang lembut tak sedikitpun mengalirkan perasaan menentang. Segalanya diterimanya dengan baik, dengan membungkam tanpa pembelaan atas hatinya yang begitu halus. Juga ketika bunda katakan padanya bahwa dia bulan muka akan dikawinkan dengan seseorang dari Solo.
Ah, bunda tak tahu hati yu Asih, hati anaknya sendiri, hati perempuan.
Waktu itu aku sedang berlibur kwartalan. Dan aku lihat bagaimana penerimaan yu Asih terhadap kata bunda itu. Dia memandang kepada bunda. Sinar matanya yang lembut sangat meragukan untuk diterka apa kata hatinya. Dan pada sinar itu lama kelamaan terpancar kekecewaan.
Ya, hanya kekecewaan. Dengan aliran air mata yang makin lama makin memenuhi keseluruhan mata itu. Bunda masih tegak di pintu kamar. Kemudian pergi keluar tak berkata sesuatupun lagi. Kulihat yu Asih merenungi bekas bunda berdiri. Dan titik air mata makin banyak mengalir kepipinya.
“Kau sudah bertunangan, Yu?” tanyaku.
Kini kudengar tangisannya meledak sekeras-kerasnya. Tangis manusia lembut yang tak punyai darah penentang. Yu Asih kawin. Yang berarti kebuntuan segala jalan untuk mencari kesegaran di luar keluarga. Kemudian giliran yu Sri. Belum lagi ia menempuh ujian SKP sudah disuruh keluar oleh bunda. Dia tahu untuk apa bunda berbuat itu. Dia berusaha sekeras-kerasnya untuk menginsafkan bunda. Revolusi disangkanya akan bisa membantunya. Tetapi tidak. Bunda tak hendak anaknya berpikiran sekehendak hati. Juga tak mau anaknya bercinta dengan orang yang bukan pilihannnya. Yu Sri punya teman seorang anggota tentara. Ikut memperjuangkan kemerdekaan dengan menjabat dokter dalam pertempuran-pertempuran di luar kota. Yu Sri cinta pada teman itu. Tapi cintanya dipenuhi keraguan. Yu Sri tak bisa menegasi tindakan sendiri. Akhirnya toh dia tunduk juga pada bunda, pada keluarga. Dia kawin dengan seorang haji pilihan bunda, dan menduduki singgasana sebagai istri ketiga.
Dalam soal-soal keluarga yang menyinggung perkawinan, aku selalu menolong sedapatku akan kebenaran yu Asih maupun yu Sri. Aku tak mau ikut campur urusan keluarga; Tapi dalam kemerdekaan macam itu aku tak bisa berdiam diri.
“Sul kemana ini?” tanya bunda pada suatu petang.
“Sejak siang aku tak lihat dia juga,” kakakku, anak manis ibu menyahuti.
“Ke mana Sul, Yati?” bunda tanya padaku.
“Tak tahu,” jawabku sambil terus menyulam.
Sul enyah dari rumah sejak siang hari. Dia kakakku keempat. Aku tahu ke mana dia pergi. Ia keluar kota bersama kawan-kawannya membantu palang merah. Dan orang rumah menjadi ribut ketika tahu Sul hilang. Aku mengerti mengapa. Bunda sudah pula adakan rencana buat Sul. Rencana tontonan lagi, tapi yang lebih sukar penyelenggaraannya dan sangat menggegerkan hati yang mengerti.
Sul sudah tahu, bahwa dia sudah disediai suami oleh bunda. Dan Sul lari keluar kota. Selama lebih tujuh bulan dia menyertai teman-teman gerilya. Pulangnya ke kota membikin hatiku bersorak. Dia hitam kini. Segar dan ria benar mukanya. Dia bertugas dalam kota mengumpulkan obat-obatan. Keluarga yang mengutukinya kembali ribut pikirkan dia. Aku peringatkan ini kepadanya. Tetapi Sul sudah terlalu menyibuki pekerjaannya, hingga tak sepenuhnya memperhatikan soal itu. Aku dan Sul agak banyak mempunyai sifat yang sama. Aku tak memanggilnya dengan sebutan keluarga, karena aku merasa lebih dekat dengan panggilan nama saja.
Suatu hari ketika kulihat Sul hendak pergi, bunda berkata:
“Ke mana lagi kau, Sul?” dengan muka yang muram. Muka bunda memang tak pernah cerah.
“Bekerja,” pendek jawab Sul.
“Bekerja setiap hari setiap waktu kau pergi selalu. Bekerja tak menerima bayaran kau teguhi macam begitu rupa. Kau tak boleh seenakmu saja. Kau sudah besar, sudah hampir bersuami,” ibu mulai marah.
“Aku belum hendak bersuami,” jawab Sul keras.
“Pura-pura kau mengelak,” bunda tersenyun masam.
“Tidak! Tak ada dalil pura-pura di sini. Aku bekerja dan masih banyak lagi yang harus kukerjakan. Benar-benar aku belum hendak kawin. Orang-orang sekarang jangan ibu samakan dengan orang-orang sejaman ibu. Ya, barangkali ibu sendiri begitu. Pura-pura tak mau ketika ditanya nenek tentang kawin. Ibu menduka hatiku, hati orang sekarang, dengan ukuran hati ibu, hati orang dulu.”
“Sul! Kau selancang ini bicara dengan ibumu ini!” suara bunda gemetar.
“Aku ingin menginsafkan ibu. Kami bekerja bukan hendak cari uang atau bayaran, bu. Tapi kerja kami hendak membantu teman-teman yang berjuang. Ini ibu mesti tahu. Berjuang itu perang, bu. Ibu tentu tahu juga bahwa kami ingin kami tak dijajah. Insaflah ibu bahwa kita ini ada dalam penjajahan.”
“Aku tak kenal benda itu.”
“Penjajahan adalah seperti kami ini, anak perempuan yang selalu harus menuruti kemauan orang-orang tua. Taat kepada perintah keluarga,” Sul ketawa sambil cepat-cepat pergi menjinjing ranselnya.
“Kau tak boleh pergi, Sul!” Bunda berteriak.
Tapi Sul makin cepat berjalan dan terus ke luar halaman.
“Kau anak keparat, kau tak menurut perintahku, Sul,” bunda tetap berteriak.
Aku masih berdiri bersandar pada almari sejak tadi. Menonton ibu dan anak yang saling keluarkan bicara sepuas hatinya.
“Sul sudah bertunangan, bu?” tanyaku tenang.
“Diam, kau! Anak kecil tak perlu ikut campur,” bentak bunda.
Aku tersenyum.
“Alangkah enak jadi anak kecil, masih lama lagi harus kawin,” kataku acuh tak acuh sambil duduk di samping radio dan memandang keluar.
“Anak kecil boleh berbuat sekehendak hatinya. Bermain-main, sepanjang hari, pergi ke sekolah muka rumah. Tapi heran, kenapa aku tak boleh beranjak dari rumah ini. Betul juga Sul. Kalau aku pergi tak usah pamit.”
“Akan kau turuti kakakmu yang tak senonoh itu?”
“Biasanya aku mengikuti yang baik menurut pendapatku.”
“Baikkah olah kakakmu itu? Patutkah anak perempuan sebesar dia pergi-pergi seorang diri dan berani membantah ibunya?”
“Kurasa bunda tak perlu bicara sekeras ini, bu. Aku tak tuli,” aku tetap tenang.
“Kau memang anak biadab. Kau dimanjakan bapakmu dulu. Kau anak bapakmu, bukan anakku. Anakku takkan seberani itu bicara dengan aku.”
“Bisa juga aku anak bapakku, bu. Sebab aku memang tak melihat sendiri dari mana datangku ini,” aku masih tetap tenang.
Bunda diam.
“Ibu tak boleh menyamakan jaman ibu dulu dengan jaman sekarang, bu,” kataku lagi ketika ibu mulai mengunyah sirih.
“Aku hanya ingat kejadian-kejadian yang lalu. Misalnya tentang yu Asih, yu Sri, dan akan ibu lanjutkan lagi pada Sul. Sedang anak manis ibu boleh memilih kawin dengan siapapun. Kelak ibu teruskan pula padaku? Pada anak kecil? Dan anak ibu yang laki-laki lainnya boleh pula berbuat sekehendak hatinya. Itu tak adil namanya, bu.”
“Anak perempuan tak boleh memilih sendiri.”
“Itu dulu, bu. Kini tak lagi begitu.”
“Memang anak sekarang pandai mengajari orang tua,” gerutu bunda.
“Kalau baik ajaran itu harus diterima, bu.”
“Tutup mulutmu! Kau tahu dengan siapa kau berhadapan?” bunda marah lagi.
“Dengan orang jaman dulu,” aku tenang.
“Kurang ajar! Aku ibumu, berani kau mengajari ibumu?”
“Aku anak bapakku. Dan aku anak jaman sekarang. Jangan bunda selalu bersitegang pada adat yang buruk itu, bu. Kami tak hendak membung adat kita semua. Kami hanya mengambil yang baik saja yang tak menghambat kelancaran jalan ke arah kesempurnaan. Kami tak membenci adat itu, bu. Tidak! Kami hanya ingin menyaringnya saja,” aku bangkit akan pergi keluar dan: “Maaf, bu. Aku hanya menginsafkan ibu sekali lagi. Sayang aku bukan anak manis ibu,” lalu cepat-cepat aku keluar.
Ya! Itu semua aku ingat. Dan aku hampir tak bisa menahan kesabaran waktu itu. Tapi aku harus sabar, aku harus punya sifat ini dalam segala hal. Inilah satu-satunya peganganku dalam menjalankan pekerjaanku.
Kami masing-masing masih saling diam. Aku tak tahu apa yang sedang dipikirkannya. Barang-kali dia masih menyusun kata-kata untuk menyerangku lagi, untuk mendapatkan kemenangan seperti yang pernah didapatnya dari ketiga kakakku perempuan. Atau barang kali pula dia sudah berputus asa untuk dapat membawaku ke rumah yang dulu.
“Aku harapkan benar kebijaksanaanmu, kak,” aku berkata sambil memandang padanya. “Kau satu-satunya anak yang paling dekat pada bunda. Tolonglah bunda masuk dan mengerti jalannya jaman, pekerjaan dan kebaktian. Kau bukan anak dulu sebenarnya, tapi kau menipu dirimu sendiri dengan kecondonganmu kepada adat keluarga. Kau jangan terlalu membuta menuruti bunda. Tolehlah segala kejadian yang telah lampau, kak. Macam mana yang terjadi?”
Aku ingat Sul lagi. Dia satu kali datang ke asramaku sesudah sekolah dibuka lagi. Mukanya pucat. Lemah sungguh bicaranya.
“Sekali ini mereka harus tahu bahwa kita orang perempuan punya tenaga juga. Aku datang mau pamit padamu.”
“Akan ke mana?” aku tak mengerti.
“Ke surga! Ke tempat yang kusuka,” dan dia pergi tanpa bilang apa-apa lagi.
Kemudian kudengar Sul hilang dari rumah. Tapi aku mengerti ke mana dia pergi. Cuma aku belum yakin benar apakah ada teman Sul yang sangat menariknya untuk berbuat seberani itu. Sul masih terus di daerah pedalaman dengan aksinya.
“Ah, Sul,” hatiku tak kuasa lagi menahan peneriakan ini.
Kulihat kakakku terkejut mendengar keluhku ini.
“Kau tentu ingat, kak, apa yang diderita Sul sekarang. Dia yang membawa tragedi paling besar dalam rangkaian kerja keluarga, kerja bunda, kerjamu pula. Coba kalau dulu Sul kau biarkan saja dalam kesibukannya membantu teman-teman di luar kota, tak dalam angan-angannya saja. Ingat juga kau ketika malam yang mengerikan dulu? Ketika Sul terlentang nekat menelan sublimat hendak bunuh diri? Ah, kenapa dulu kau bertindak sekejam itu, kak? kau seret dia dari daerah cuma hendak memuaskan hati bunda.”
“Itu semua sudah lalu.”
“Aku tahu semua sudah lalu. Tapi baik kita bercermin pada segala kejadian yang lalu itu.”
“Sul terlalu pendek jalan pikirannya,” dia enak saja bicaranya.
“Tidak terlalu pendek, bahkan sangat tak terukur oleh kau, oleh keluarga.” Airmata sudah hampir tak bisa kutahan. Aku ingat Sul. Dia yang sudah berusaha dengan segala tenaga perempuannya untuk memperoleh daerah bebas yang dipilihnya. Tapi dia gagal. Dan kegagalannya mewujutkan dunia baru di Ngawen, daerah lesu yang dipenuhi paru-paru setengah kerja.
“Masih belum cukupkah kau tergelak ketawa puas melihat tontonan-tontonan yang lalu, kak? Akan kalian adakan lagi sorak yang mengerikan dengan memperalat diriku?”
Dia diam, aku tahu dia bingung hendak menjawab.
Sewaktu surat paman datang juga mengatakan bahwa aku disuruh pulang. Tapi aku jawab aku meneguhi kerjaku. Kemudian datang lagi suratnya mengutuk memaki. Aku anak durhaka, anak keparat. Aku bikin dosa besar dalam hidup ini, katanya.
Ya, aku memang anak biadab bagi keluarga. Tapi aku yakin, bahwa aku anak yang berbakti bagi negaraku.
“Bukan tempatmu di kota sekecil ini,” dia mengambil hatiku.
“Kau tahu benar? Kenapa?”
“Jogya lebih baik. Kau bisa belajar lagi lebih jauh.”
“Di sinipun aku belajar. Aku belajar mengenal hidup segar, Jogya hanya menjadi tikaman hasrat bagiku,” aku tahu dia memasang jerat untukku.
“Kau tak usah perbanyak soal untuk melanjutkan usahamu menjadi pesuruh keluarga. Pada orang lain barangkali kau bisa pergunakan kekerasanmu, tapi padaku tidak. Sampai matipun kupertahankan kemerdekaanku.”
“Kau ikut jejak Sul?”
“Kalau perlu.”
“Dan merana di dunia batuknya?”
“Untuk ke sana kukira tidak. Sebab aku yakin akan kekuatanku.”
Kembali dia diam. Aku memandang keluar, sudah gelap. Aku berdiri dari dudukku pergi ke jendela. Tiap petang aku selalu menengok matahari dari jendela. Sekedar menyejuki hati dengan merah atau ungu senja sesudah berhadapan dengan murid-muridku, sejak pagi dan sore hari. Dan kali inipun kuikuti awan senja. Adanya kakakku tak menjadi penghalang, juga adanya siapapun.
Kudengar dia menghela nafas panjang.
“Benar-benar kau keras kepala, Yati.”
“Bunda juga keras kepala. Apa salahnya kalau aku keras kepala pula. Untung aku masih diwarisi keras hati dan kesabaran dari bapak.”
Dia bangkit dan berkata:
“Kau banyak kerja malam ini?”
“Aku selalu banyak kerja.”
.
Sumber: Dini, Nh., Liar, Nur Cahaya, Yogyakarta 1989. Foto: Wahyu Budiyanto. (Peringatan: Konten ini memuat unsur tindakan menyakiti diri sendiri.)
Referensi
- https://www.goodreads.com/author/show/824284.Nh_Dini
- https://tirto.id/pilihan-hidup-dan-perjuangan-nh-dini-da5H
- https://www.goodreads.com/book/show/1038260.Dua_Dunia
- https://creators.spotify.com/pod/profile/membacakancerpen/episodes/Dua-Dunia-1955–N-H–Dini-e1hsj3e
- https://id.wikipedia.org/wiki/Nh._Dini





Leave a Reply