Paku dan Palu
Cerita Pendek Karya Utuy Tatang Sontani (1948)
ATMA buta huruf, pekerjaannya memperbaiki sepatu rusak, berkeliling tiap hari masuk gang keluar gang mendatangi rumah orang lain, membawa paku, palu, jara, tali rami dan alat lain lagi. Itulah mata pencahariannya semenjak ia lepas dari tanggungan orang tuanya sampai ia mempunyai isteri dan seorang anak.
Tatkala pada tanggal 21 Juli 1947 tentara Belanda mengadakan aksi-polisi mendesak rakyat penduduk kota mengungsi kepegunungan. Atmapun pergi bersama keluarganya mengosongkan rumah, dengan alasan takut pada peluru seperti juga alasan bagi kebanyakan yang buta huruf. Tapi kalau orang lain berangkat dengan terengah-engah dibebani harta, Atma dan isterinya ringan saja mengayun langkah. Sebab tiada banyak yang mereka bawa. Hanya sebundelan pakaian, satu peti perabot untuk memperbaiki sepatu dan satu dua perabot dapur. Hanya itulah harta mereka.

Ke mana mereka mesti pergi, mereka sendiri tidak tahu. Tapi setelah jauh meninggalkan kota, sampai jugalah mereka pada seorang petani yang rela menerima mereka diam dirumahnya.
Kepada yang punya rumah itu Atma memberikan sebuah kemeja yang sudah usang tapi masih sering melekat ditubuhnya. Dengan demikian selama beberapa hari ini mereka tidak usah mencari-cari beras dan dengan demikian pula berarti Atma sudah kehilangan sepertiga dari semua jumlah bajunya. Tapi tidak apa, sebab pada pendapatnya tidak akan selamanya harus mengeluarkan pakaian. Untuk segera memperoleh uang iapun tidak lama membiarkan dirinya diam di rumah. Ia pergi meninggalkan anak dan isterinya membawa alat-alat untuk memperbaiki sepatu, mendatangi rumah orang lain, kalau-kalau yang punya rumah itu ada mempunyai sepatu rusak yang harus diperbaiki.
Ia menjalankan kewajiban seperti tatkala masih diam di kota. Dan seperti kebiasaannya di kota juga, setelah hari lohor baru ia pulang.
Tapi ia pulang dengan muka suram; katanya kepada isterinya: “Tiada seorang juga yang mempunyai sepatu rusak. Ya, penduduk gunung malah tidak tahu bersepatu.”
Isterinya menganjurkan supaya esok pergi lagi ke tempat yang agak jauh di mana banyak orang kota mengungsi. Orang kota sudah tentu mempunyai sepatu.
Anjuran itu dijalankan. Pada keesokan harinya Atma pergi lagi lebih jauh dari tempat yang didatanginya kemarin. Akan tetapi ia pulang dengan muka suram juga: ujarnya kepada isterinya: “Banyak orang kota yang kaya kujumpai. Tapi mereka tidak kelihatan bersepatu. Katanya mereka meniru orang kampung, supaya disangka orang kampung oleh tentara Belanda yang mungkin bersua dengan mereka.”
Meskipun demikian, namun pada keesokan harinya Atma pergi lagi, sekalipun tiada harapan akan menemui sepatu rusak. Setelah lima hari usahanya itu tidak memberi hasil, mulai dia tidak percaya lagi akan faedahnya perabot yang dibawanya kian-kemari. Mulai timbul pikiran harus menunda pekerjaan jadi tukang memperbaiki sepatu. Tapi waktu isterinya mengatakan sudah tiada punya beras dan melahirkan pendapat supaja perabot yang tiada gunanya itu dijual saja, Atma menjawab dengan melemparkan sebuah baju; katanya: “Perabot itu jangan dijual, sebab siapa tahu esok atau lusa kita ke kota lagi. Daripada menjual perabot itu, lebih baik menjual baju saja.”
Dengan begitu ia kini sudah kehilangan duapertiga dari semua jumlah bajunya. Dan supaja uang penjualan baju itu dapat terpakai lama, mulai waktu itu makan mereka dikurangi. Kalau biasanya dua kali sehari, kini hanya satu kali saja dan dicampur singkong pula. Selaku menghibur diri sendiri, selalu ia berkata: “Biarlah, nanti kalau kita sudah ke kota lagi, kita akan makan tiga kali sehari.”
Ia tidak tahu bahwa dari kurang makan badan anaknya tidak cukup menerima pitamin. Ia tidak tahu hal itu sebab ia tiada tahu pelajaran tentang kesehatan. Bila anaknya kelihatan sakit-sakit, dianggapnya penyakit itu datang dibawa angin lalu.
Meskipun demikian, namun jika penyakit anaknya itu mendatangkan ajal, peristiwa kematian anaknya itu ditangisinya dengan menghamburkan kata-kata: “Ya, kalau kita diam di kota, belum tentu anak kita meninggal dunia…”
Iapun mendapat tahu dari orang lain, bahwa sekarang ini pengungsi belum dibolehkan lagi memasuki kota, sebab di kota belum aman. Hal ini diutarakan pula oleh bunyi senapan yang sebentar-sebentar terdengar mengerikan. Lagi pula menurut cerita orang kepadanya, siapa yang memaksa masuk ke kota, pasti menemui bahaya, entah akan ditembak oleh tentara Indonesia dengan alasan disangka mata-mata, entah akan dibunuh oleh tentara Belanda lantaran dituduh memusuhi mereka.
Padahal ditembak ia tidak sudi. Ia meninggalkan kota juga lantaran tidak mau jadi kurban peluru.
Ia bingung. Sebab untuk terus diam di pegunungan di mana ia tidak menemui sepatu rusak yang mesti diperbaiki, ia tidak sanggup lama lagi. Dan lebih dari dua baju tak dapat lagi ia keluarkan.
Ia sudah mencoba menjual tenaga yang laku di pegunungan, yaitu kuli memikul. Tapi ia tidak kuat. Akibatnya menderita sakit sekujur badan. Pernah pula ia kuli mencangkul meniru orang kampung, akan tetapi hanya ditertawakan orang saja, sebab tidak biasa.
Ada juga pikiran mau dagang. Tapi kecuali belum pernah, takut tidak laku, juga tidak ada modal.
Akhirnya datang pula saat isterinya menceritakan tidak punya beras disertai anjuran supaya perabot yang tidak ada gunanya itu dijual saja.
Apa boleh buat, daripada tidak makan relalah ia melepaskan sebagian dari perabot itu. Kulit, tali rami, jara dan yang lainnya lagi diizinkannya supaya dijual. Kecuali sebungkus paku dan sebuah palu. Katanya: “Dulu aku memulai dengan paku dan palu. Nanti juga, kalau kita sudah ke kota, paku dan palu itu akan kujadikan modal.”
Tapi di dalam ia rela menjual sebagian dari perabot itu, isterinya melihat dia lesu terkulai. Ketika anaknya mati, ia kelihatan sedih. Tapi sekarang diceraikan dengan sebagian dari perabotnya, ia mengandung rasa pahit. Kepahitan itu jelas nampak di kala ia duduk memeluk dengkul memandang paku dan palu.
KEDUA barang itu tak hendak lagi terlepas dari tangannya. Dibungkusnya baik-baik dan disimpannya tidak jauh dari petidurannya. Dan tatkala pada suatu hari ada kabar bahwa akan datang patruli Belanda ke tempat mereka, di dalam orang lain ribut mencari persembunyian seraya membawa barang-barang berharga yang patut disembunyikan, iapun lari meninggalkan rumah dengan mendahulukan membawa paku dan palu.
Ya, kedua barang itu mesti ia bawa lagi ke kota sebagai modal, seperti yang dikatakannya kepada isterinya. Itu berarti bahwa dia bukan hanya mesti kuat mempertahankan kedua barang itu jangan sampai lepas sebagai barang kepunyaannya. Tapi pula ia mesti berikhtiar untuk segera dapat pergi ke kota.
Akan tetapi apabila ia menanyakan kepada orang lain: “Kapankah kota aman lagi?” selalu ia dapat jawaban: “Wah, masih lama lagi.” Dalam pada itu isterinya sudah berkata lagi bahwa beras sudah habis.
Sekali ini terhadap keterangan isterinya itu ia bersikap diam. Terus terdiam. Hanya nafasnya ditarik panjang-panjang.
Lama dulu ia hening tidak bergema. Kemudian diambilnya bungkusan paku dan palu itu. Dengan senyum pahit ia berkata: “Aku akan pergi membawa paku dan palu ini. Barangkali akan lama juga, sebab sebelum aku mendapat beras, aku tak akan pulang.”
Dengan langkah gontai dan tiada lagi mempedulikan apa yang dikatakan isterinya, ia berjalan meninggalkan rumah.
Keesokan harinya ternyata ia tidak pulang. Demikian pula pada hari ketiganya, keempatnya dan kelimanya. Dan isterinya menunggu mula-mula dengan tenang, kemudian dengan gelisah dan akhirnya timbul curiga. Maklumlah keadaan di mana-mana masih dalam suasana perang; banyak cerita orang yang menerangkan tentang adanya yang dibunuh yang ditawan serta disiksa.
Kepada pedagang yang pulang dari pasar sering ia menanyakan kalau-kalau berjumpa dengan lakinya. Tapi selalu dijawab dengan “Tidak” saja. Ada juga keinginan untuk mencari keterangan dengan jalan pergi menanyakannya kepada penduduk lain kampung, tapi ia tiada keberanian jauh meninggalkan rumah, sebab takut kalau-kalau di jalan bersua dengan tentara Belanda.
Untuk dapat makan, bajunya yang tinggal satu dijualnya dan ia terus menunggu kedatangan lakinya dengan badan tidak terbungkus lagi.
Sarungnya yang satu-satunya melekat di tubuhnya sudah bertukar dengan kain goni, tatkala pada suatu hari ia mesti menerima kedatangan seorang opsir tentara yang baru saja dikenal dan datang kepadanya dengan pertanyaan: “Kakak isteri orang yang …. membawa paku dan palu?”
Ia jawab dengan mengangguk menelan ludah.
“Kedatangan saya,” kata opsir itu, “ialah untuk memberitahu kepada kakak bahwa laki kakak meninggal dunia.”
Perkataan itu lebih tajam dari pisau menusuk jantungnya. Tapi ia memaksa bertanya: “Apa sebabnya? Dan di mana?”
“Mayatnya kedapatan tidak jauh dari kota, sehari setelah ia ditahan oleh kami di markas. Ia ditahan, sebab mulanya diduga mata-mata yang hendak menyelundup ke kota. Tapi ia jadi tawanan kami tidak lebih dari satu hari. Setelah dia ternyata tidak waras pikirannya, yaitu setelah mengamuk di kala paku dan palunya hendak kami tahan dan mengatakan bahwa ia akan pergi ke kota untuk mencari sepatu rusak, diapun lalu dilepaskan. Tapi meskipun ia diperingati supaya jangan melalui jalan yang sering diinjak patruli Belanda, namun ia ke sana juga seraya menepuk-nepuk dada dan tertawa. Akhirnya dia kedapatan sudah jadi mayat.”
Isteri Atma tidak menjawab, hanya air matanya saja jatuh bertitik. Ia tidak dapat memahamkan apa yang terjadi dengan lakinya itu. Sekalipun dahinya dikerut-kerutkan, tapi ia tetap tidak mengerti.
Sumber: Utuy Tatang Sontani, Orang-Orang Sial: Sekumpulan cerita tahan 1948-1950, Balai Pustaka, B.P. No. 1847, Djakarta, 1951. Urutan cerita menurut waktu dikarangnya. Digambari oleh Ooq. Foto: Warga Palestina menunggu tukang sepatu memperbaiki sepatu mereka di Khan Yunis, Palestina, 2024. © Bashar TALEB/AFP/File
Bibliografi
- Utuy Tatang Sontani, 1948, Bunga Rumah Makan. Pertundjukan watak dalam satu babak. B.P. 1650. 32 pp. 2nd. ed. 1954.
- Utuy Tatang Sontani, 1948, Suling. B.P. 1651. 92 pp.
- Utuy Tatang Sontani, 1949, Tambera. B.P. 1671. 279 pp. 2nd. ed. 1952. (Google Books)
- Utuy Tatang Sontani, 1951, Orang-Orang Sial. B.P. 1847. 119 pp. 2nd ed. Ban-dung 1963, with an additional story.
- Utuy Tatang Sontani, 1952, Awal dan Mira. Drama satu babak. B.P. 1887. (Earlier in Indonesia 2, 1951, p. 79-102).
- Utuy Tatang Sontani, 1953, Manusia Iseng (drama satu babak). Indonesia 4.8/9, p. 473-87.
- Utuy Tatang Sontani, 1953, Sangkuriang Indonesia 4.10, p. 594-601. Dajang Sumbi (drama 3 babak).
- Utuy Tatang Sontani, 1954, Sajang ada Orang Lain (drama satu babak). Indo-nesia 5.5/6, p. 261-80.
- Utuy Tatang Sontani, 1955, Dilangit Ada Bintang (Drama satu babak). Indo-nesia 6.2, p. 61-75.
- Utuy Tatang Sontani, 1955, Sang Kuriang. Seni 1, 11 and 12, p. 483-511 and 531-542.
- Utuy Tatang Sontani, 1957, Saat jang Genting (drama satu babak). Indonesia 8.3, p. 133-44.
- Utuy Tatang Sontani, 1963, Selamat Djalan, Anak Kafur (sandiwara satu babak). Bukittinggi-Djakarta. 59 pp. (Two stories, publ. earlier in Indonesia 7.8 and 8.3.)
- Utuy Tatang Sontani, 1964, Si Sapar. Sebuah novelette tentang kehidupan pe-narik betjak di Djakarta. Djakarta. 48 pp. (Internet Archive)
- Utuy Tatang Sontani, 1964, Si Kampeng. Djakarta. 36 pp.
- Wikipedia Contributors. (2026, July 26). Utuy Tatang Sontani. Wikimedia Foundation. Wikipedia. https://id.wikipedia.org/wiki/Utuy_Tatang_Sontani




Leave a Reply