Dua Dunia

Cerita Pendek Karya NH Dini (1956)

Dulu rambutnya tidak jarang seperti ini. Kalau bersisir sekarang dia harus perlahan sekali, sakit rasanya sisir itu menyentuh kulit kepalanya. Dia berharap supaya tak banyak rambut yang rontok. Terlalu banyak yang hilang segala yang dimiliki dulu, sebelum dia kena tipus. Ya, terlalu banyak yang hilang. Kesegarannya, kesigapannya, waktu dan tenaga kesanggupannya begitu mudah ditelan oleh rimbunan kuman yang menggerogoti kesehatannya. Dan rambutnya ini, ah alangkah sakit hatinya jika melihat perhiasan satu-satunya yang asli ada di tubuhnya itu kini tak seindah dulu. Disisirnya perlahan memanjang. Jarang dan kasar. Tak lagi mengkilat. Dia tak mau memberinya minyak, karena minyak dianggapnya akan membikin rambut menjadi sedikit kelihatannya. Dan dia tak mau rambutnya menjadi sedikit karena kelihatan orang. Meskipun dengan cara ini dia hanya menipu hatinya sendiri, dia membujuk perasaannya sendiri yang mengatakan bahwa dia masih cukup bisa berhias dengan rambut yang ada sekarang. Dengan hati-hati dibelainya rambutnya sekali lagi untuk kesekian kalinya. Dipandangnya sebentar mukanya dalam cermin. Ah, tidak! Tak sampai hati dia merenungi wajahnya itu. Redup kuyu benar sinar matanya.

Terlalu tajam beda dia yang dulu, yang segar dan selalu lincah pandang matanya, dengan dia yang sekarang ini, yang ada dalam cermin itu. Dia yang sekarang sudah tak lengkap lagi dengan keseluruhannya yang dulu, sudah dimakan penyakit. Sudah menjadi sarang dari ribuan kuman yang tak disadarinya telah merampas sebagian kepunyaannya.

Dia masih ingat dulu waktu kecil, bagaimana takutnya dia pada jarum suntikan. Dia masih ingat pula ibunya membisikkan bujukan rayu ke telinganya untuk mau disuntik. Dia masih ingat pula bagaimana dulu dia lari pulang dari sekolah, karena ada suntikan di sekolahnya. Dan betapa ibunya memeluknya dengan mesra, menginsafkannya apa perlunya orang disuntik. Tapi dia belum bisa tahu kenapa orang mesti ditusuk lengannya kemudian diberi semacam air dalam tusukan itu. Dia hanya tahu bahwa dia takut pada jarum itu dan dia tak mau orang menusuknya begitu saja. Sampai pada batas umur yang tak pantas lagi dia selalu ditolong, dia tetap belum bisa menginsafkan dirinya untuk tidak takut suntik. Suntik apa saja tetap dia tidak berani. Dan kini, benar-benar merasakan akibat ketakutannya selama itu. Takutnya terhadap jarum, satu ujung kecil yang menusuk dagingnya dan yang tak akan minta kekuatan tenaga apapun darinya, kini memberinya akhiran yang tidak seimbang. Sebagian hidupnya sudah lesu. Dia tak akan bisa kuat benar seperti dulu. Segala yang dia makan harus ada batasannya, jumlah serta jenisnya. Betapa terikatnya kini dia. Satu paksaan di samping kehilangannya akan keseluruhan yang dulu. Seakan-akan dia tak akan lagi bisa memberi arti hidupnya sendiri. Hidup yang dulu selalu ditimbang atau diidamkan oleh ibunya: Jadilah manusia yang berarti bagi keluargamu! Idaman ibunya, ucapan ibunya, manusia yang kini sudah tak hadir dalam perjalanannya dalam hidup ini.

Dia tersenyum, alangkah kakunya ucapan ibunya itu diingatnya kini. Dia harus menjadi manusia yang berarti bagi keluarganya. Tapi kenyataannya sampai kini dia tetap tak bisa menjadi tokoh yang berarti dalam keluarga. Berarti menurut pikirannya, menurut otak manusia seperti dia yang bercitakan kesemarakan tidak hanya dalam soal keluarga. Dan idaman ibunya yang sangat sederhana, menjadi seorang istri dan ibu yang baik dan membawa kebenaran bagi nama keluarga, tidak bisa dia penuhi. Meskipun dia sudah berusaha untuk memenuhinya, berusaha menjadi istri yang baik dengan menurut segala perintah orang tuanya. Betapa tidak, orang seperti dia yang terus-menerus disodori dengan berbagai ajaran adat, tumbuh dalam belaian kata timangan ibunya yang sangat terbatas pandangannya. Sampai pada perkawinannya, dia hanya mempunyai kesadaran harus bagaimana nanti dia untuk menjadi istri yang baik, dan dia merasa sudah menjadi keharusan bahwa dia tinggal menjalankan saja perkawinan itu. Suaminya dipilihkan oleh orang tuanya.

“Apa kata Darwo, Is?” Tiba-tiba suara ayahnya memadati sepi di kamar itu. Dan tiba-tiba pula teringat olehnya akan surat bekas suaminya yang datang siang tadi. Mukanya muram menjawab ayahnya.

“Minta Kanti.” Suaranya merendah dan matanya merenung ke muka ayahnya dalam kaca. Кеdengaran ayahnya menghela nafas.

“Uang tunjangan dimasukkan sana, dan anak itu harus ikut dia,” kata ayahnya.

“Memang menurut hukum Islam anak perempuan ikut bapak.”

“Aku tak peduli macam hukum manapun juga. Terlalu tak openi perasaan kemanusiaan.”

“Biar bapak saja yang menjawab nanti.”

“Uangnyapun tak pernah dikirimkan, pak.”

“Ibumu yang menerima, Is.”

Betapa terkejutnya dia mendengar ini. Dibalikkan badannya dan ditentang mata bapaknya, mata yang sudah pudar itu.

“Dengan tidak setahuku,” dia memprotes.

“Kita sama-sama membutuhkan uang, Is,” suara ayahnya rendah.

“Tapi belum cukupkah gajiku tiap bulan yang kuserahkan semua kepada ibu? Belum pula gaji bapak sebelum pensiun.”

Ayahnya diam saja. Dan oleh kediamannya itu hati Iswanti jadi lemah.

“Seolah sudah demikian mendesaknya kebutuhan itu, hingga mesti minta-minta kepada orang lain.”

“Tapi kami tidak minta,” ayahnya menyela.

“Tapi menerima,” dia cepat menjawab. Dan menerima berarti mau dan untuk kemudian minta supaya bulan depan diberi lagi buat diterimanya. Ditantangnya mata bapaknya dari dalam kaca. Kemudian dia buang pandangnya ke arah jauh. Ayah tak menyadari betapa tuntutan Darwo nanti. Juga ibu tidak.

Kalimat terakhir itu diucapkannya dengan lemah sekali. Dia tahu kenapa ibunya begitu rakus akan kebutuhan uang. Lingkungan ibunya yang tak punya banyak kerja itu membikin keisengan buat membuang-buang waktu. Dan judi yang di-mulai kecil-kecilan lama-kelamaan menyandu dan mendarah daging pada manusia. Demikian itulah hidup ibunya, manusia yang dicintai anak-anaknya itu mencari keisengan sejak pagi ditinggal suami dan anak-anaknya pergi berangkat kerja dan sekolah. Biaya hidup sederhana kadang-kadang terhanyutkan pula ke meja judi, kumpulan orang-orang yang juga iseng seperti ibunya. Hidup begitu sudah lebih dari biasa bagi Iswanti yang mengetahui segala-galanya. Dia malu terhadap tetangga dan kawan-kawannya, dan terhadap dirinya sendiri sebagai perempuan yang tahu bagaimana hidup membuat rumah tangga yang baik. Ia terima mesra cukup banyak dari ibunya sebelum tergila oleh judi dan kelalaian. Tapi sejak adiknya sampai yang bungsu, hidup di bawah asuhannya sebagai anak sulung mengerti ke mana ibunya pergi kadang-kadang hingga tengah hari belum pulang, kadang-kadang hingga petang hari.

Tiba-tiba Kanti masuk dengan langkahnya yang belum tegak benar itu hendak mengambil bola di bawah kolong tempat tidur. Iswanti melihatkan anaknya dari dalam kaca. Begitu mungil tubuh itu. Akan diberikan itu kepada Darwono, bapak Kanti? Tidak, dan hatinya berteriak sendiri mengatakan tidak. Dia ingat betapa malam itu dia berjuang memperebutkan nyawanya dan nyawa anaknya, betapa derita yang dirasakannya sewaktu Kanti lahir. Dia tak punya tenaga penuh, karena kelemahan tubuhnya selama mengidap tipus.

“Kanti tak boleh diasuh ibu tiri,” tiba-tiba dia berkata. Dan dibelainya kepala anaknya yang jongkok dikakinya menggapai-gapai bola di bawah tempat tidur.

“Kalau ada tuntutan?” tanya bapaknya, sambil menolong cucunya mengambil bola.

“Aku berusaha mengembalikan uangnya.”

“Kau harus hati-hati dengan kesehatanmu.”

“Aku tahu itu. Tapi aku sangat menyesal karena namaku dibuat mencari keuntungan. Dan keuntungan itu cuma untuk dibuang-buang di meja judi.”

Ayah diam. Iswanti sendiri sudah demikian tak tahan hatinya hingga terungkit olehnya kepincangan rumah tangga ayahnya. Satu tusukan pula itu bagi ayahnya sebagai kepala rumah tangga yang tak bisa menumbuhkan kebahagiaan dalam lingkungannya.

“Kau bisa minta tolong pada kawanmu di kantor perbendaharaan tentang tunjangan itu. Masukkan Kanti dengan kau,” ayahnya mencoba memberi jalan.

“Tidak. Biar semua kuurus sendiri.”

“Kalau tak berhasil?”

“Gelang dan subangku barangkali cukup untuk ganti beberapa ratus rupiah.”

“Hutang kita juga belum lunas sejak perkawinan adikmu.”

“Baru sekarang bapak bicarakan ini padaku.”

“Aku berusaha memikirkannya sendiri sejak ibumu meninggal.”

Ibunya meninggal dengan warisan hutang juga rupanya. Dan ayahnya yang sudah tua itu sekali lagi dipandangnya. Tubuh kecil kering oleh batuk.

“Kita sebetulnya bisa minta tolong sama Darwo.”

“Kalau bapak mau boleh saja. Tapi jangan kami, aku dan Kanti, ikut pula terbawa-bawa untuk pengganti jasa.” Dipandangnya muka bapaknya dengan sungguh-sungguh.

“Sudah lama aku tahu bagaimana manusia selalu minta ganti buat kerja atau perbuatan yang dilakukannya terhadap orang lain. Dan pada Darwo, aku tak perlu lagi beramah-ramah.”

Dia ingat dulu sewaktu masih di Jakarta di rumah suaminya. Tak pernah terasa olehnya bahwa dia berada di rumahnya, di tempat yang harus diaturnya seperti rumah tangga-rumah tangga lainnya yang pernah dilihatnya. Ibu tiri Darwono yang genit itu selalu memperlihatkan bahwa ia lebih kuasa dalam rumah itu, bahkan lebih kuasa atas diri Darwono yang telah menjadi suami Iswanti. Nampak segala perbuatan ibu tiri itu dibuat-buat untuk menyakitkan hati Iswanti. Dan segala itu ditahannya, ditekannya saja dalam perasaannya, karena dia mau menjadi istri yang baik. Dia mau menjadi istri yang menurut idaman ibunya, mengikuti segala omongan suami dan orang tua. Sampai akhirnya Kanti sudah dalam kandungan antara lima bulan, dia tak tahan lagi di dalam lingkungan hidup yang berisi tantangan dan cemohan itu. Betapa tak akan terbakar rasa dadanya kalau dilihatnya suaminya berbaring dengan kepalanya di atas pangkuan ibu tirinya di atas dipan di ruang belakang. Darwono yang begitu penuh napsu seperti juga laki-laki lain di atas bumi ini.

Tadinya dia anggap itu sebagai sesuatu yang biasa saja, karena disangkanya kasih ibu tiri itu cuma kasih ibu yang tulus kepada anaknya. Tapi lama-kelamaan segala tingkah yang melampui batasan kesopanan antara kedua manusia itu benar-benar mengejutkan dan menyolok mata Iswanti istri yang mau setia itu..

Tidak. Dia sudah cukup lama menderita dengan penerimaan yang dipaksa-paksa terhadap perlakuan Darwono itu. Dan dia tak hendak bahkan tak sudi buat minta tolong kepadanya, apalagi tak terpikirkan olehnya untuk menyerahkan anaknya kepada bekas suaminya itu.

“Aku akan dapat menghidupi anakku sendiri,” katanya.

Ayahnya diam saja. Dia tahu betapa sakit hati anaknya terhadap Darwono. Tapi dia tak tahu betapa derita perasaan anaknya itu akan hal yang pernah dihadapinya. Dia sendiri sebagai nenek perah mengeluhkan kenapa cucuku lahir perempuan. Kakek itu agak menyimpan sedikit kekhawatiran dalam hatinya akan kekekalan hidup cucu perempuan itu, anak dari anaknya perempuan yang pernah dibuat landasan oleh permainan nasib perkawinan.

Tapi itu tidak bagi Iswanti. Laki-laki atau perumpuan baginya sama saja. Anaknya entah laki-laki entah perempuan hendak dididiknya dengan baik, dengan curahan segala rasa kemanusiaan yang sewajarnya. Hendak dididiknya supaya jiwa pembedaan dunia antara laki-laki dan perempuan dipenuhi rasa kasih pada sesamanya.

Kembali dia pandang mukanya dalam kaca, lesu dan pucat.

Semarang, 28 Maret 1955.

Sumber: Dini, NH., Liar, Nur Cahaya, Yogyakarta 1989

Referensi

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Trending

Discover more with Stories From Indonesia

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue Reading