Meski Lebih Unggul, AS-Israel Akan Menderita jika Iran Meradang
Oleh Luki Aulia dari Kompas.id, 28 Feb 2026
Di atas kertas, Iran tak sekuat Amerika Serikat. Iran menjadi lebih rentan setelah perang dengan Israel pada Juni 2025. Ditambah lagi dengan masalah dalam negeri dengan gelombang protes antipemerintah.
Namun, Iran bersumpah akan membalas setiap serangan AS ”dengan ganas” jika AS nekad menyerang Iran. Meski banyak pihak memperkirakan Iran tak akan bisa menang melawan AS, Iran masih bisa membuat AS dan sekutunya, Israel, kelabakan dan menderita.
”Negara mana pun pasti akan bereaksi terhadap tindakan agresi; dan dengan cara ganas. Itulah yang akan kami lakukan,” kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baqaei, Kamis (27/2/2026).
Pernyataan disampaikan sebelum perundingan AS-Iran di Geneva, Swiss, selesai pada Kamis malam waktu setempat atau Jumat dini hari WIB. Perundingan menghasilkan kesepakatan soal pertemuan lanjutan di Vienna, Austria, pekan depan.
Wakil Menlu Iran Kazem Gharibabadi menilai perundingan ini peluang baru bagi kedua pihak. Akan tetapi, ada risiko konflik regional jika Iran diserang. ”Konsekuensi dari agresi baru apa pun tidak akan terbatas pada satu negara dan tanggung jawab akan berada pada mereka yang memulai atau mendukung tindakan tersebut,” ujarnya.
Risiko konflik ini meningkatkan kekhawatiran berbagai negara lain yang bersegera mengambil tindakan pencegahan. India menyerukan warganya untuk segera meninggalkan Iran.
Ini menyusul imbauan dari Swedia, Serbia, Polandia, dan Australia yang juga sudah mengeluarkan imbauan serupa. AS pun sudah lebih awal mengeluarkan imbauan serupa.
AS saja mengakui kelemahannya. Setidaknya itu keluar dari pernyataan Kepala Staf Gabungan Militer AS Dan Caine.
Ia memperingatkan berbagai risiko yang terkait dengan serangan AS terhadap Iran. Apalagi, jika serangan dilakukan dalam jangka panjang. Risiko ini sedang dipertimbangkan oleh Presiden AS Donald Trump.
Caine, kepada harian The Washington Post, mengungkapkan ada masalah kurangnya amunisi serta dukungan dari sekutu dan ini meningkatkan potensi bahaya bagi tentara AS. Harian Wall Street Journal juga menyatakan, para pejabat di Pentagon juga sudah memperingatkan risiko korban jiwa AS dan sekutu serta bakal terkurasnya pertahanan AS jika negara itu menyerang Iran.
Utusan Khusus AS untuk Perdamaian Steve Witkoff juga terus meminta Trump tak tergesa menyerang Iran. ”Saya yang membuat keputusan. Saya lebih suka ada kesepakatan. Akan tetapi, jika kita tidak bisa bersepakat, itu akan jadi hari yang sangat buruk bagi Iran dan, sangat disayangkan, bagi rakyatnya,” kata Trump.
AS memperkirakan Iran masih punya ratusan rudal yang mampu menyerang AS dan Israel. Iran juga masih punya rudal jarak pendek yang jauh lebih besar yang mampu menyerang pangkalan militer AS di negara-negara Teluk dan kapal-kapal perang AS yang sedang mengapung di lepas pantai. Itu menurut AS.
Namun, Menlu Iran Abbas Araghchi kembali menekankan program rudal Iran semata-mata untuk pertahanan diri. ”Kami tidak mengembangkan rudal jarak jauh. Kami sudah membatasi jangkauan rudal kami di bawah 2.000 kilometer secara sengaja karena kami tidak menginginkannya. Kami tidak ingin menjadi ancaman bagi dunia. Ini hanya untuk membela diri,” kata Araghchi dalam wawancara eksklusif dengan harian India Today.
Beberapa hari sebelumnya, Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei memperingatkan, Iran dapat menenggelamkan kapal perang AS. Serangan AS ke Iran juga memicu perang regional. Wakil Tetap Iran untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa Amir Saeid Iravani mengatakan, semua pangkalan, fasilitas, dan aset pasukan musuh di Timur Tengah akan menjadi target yang sah.
Namun, Trump meyakini AS akan dengan mudah mengalahkan Iran dalam perang apa pun. Di media sosial, Trump mengatakan, sebenarnya AS tak mau berperang. Akan tetapi, jika harus menyerang Iran, AS akan menang mudah.
Trump, yang memerintahkan serangan terhadap fasilitas nuklir Iran tahun lalu, berulang kali mengancam Iran dengan tindakan militer lebih lanjut jika keduanya tak mencapai kata mufakat. Tampaknya Trump meyakini Iran sudah lemah karena AS dan Israel sudah menghancurkan fasilitas nuklir Iran, tahun lalu.
Namun, sampai sekarang tidak diketahui sejauh mana kerusakannya dan seberapa banyak yang sudah dibangun kembali. Iran sampai sekarang masih bisa menyerang Israel dengan rudal dan pesawat nirawak.
Perang regional
Ahli Iran di Institut Studi Keamanan Nasional Israel Danny Citrinowicz menjelaskan, persenjataan rudal jarak pendek Iran sebagian besar tidak tersentuh. Dengan rudal-rudal itu, Iran bisa menyerang tentara AS yang bermarkas di Qatar, Arab Saudi, Jordania, Uni Emirat Arab, dan tempat lain.
Iran mungkin lemah. Akan tetapi, mereka masih memiliki cara untuk membuat AS dan Israel menderita.
”Para pejabat Iran merasa mereka perlu memberi Trump pukulan telak. Jika tidak, mereka akan selalu berada dalam posisi berisiko diserang,” tulis Direktur untuk Iran di Dewan Keamanan Nasional AS (2022-2025) dan kini Kepala Proyek Strategi Iran Dewan Atlantik Nate Swanson, di majalah Foreign Affairs, 24 Februari 2026.
Swanson pernah ikut dalam tim perunding Iran di pemerintahan Trump. Menurut dia, Trump gagal memahami bahwa, meski lemah, bukan berarti Iran akan menyerah di meja perundingan.
Sebaliknya, kerapuhan Iran saat ini hanya mempersempit ruang untuk kompromi. Trump juga tidak punya alasan kuat untuk menyerang Iran. Iran memang ancaman bagi kepentingan AS di Timur Tengah, tetapi tidak menimbulkan ancaman langsung bagi AS.
Citrinowicz menambahkan, Iran punya delapan bulan untuk belajar dari kesalahan mereka dan memperkuat keamanan internal. Kemungkinan ada rencana darurat jika Khamenei terbunuh. Alih-alih menunjuk satu penerus tunggal, kekuasaan kemungkinan akan beralih ke komite kecil sampai permusuhan mereda.
Meski Khamenei yang sudah memerintah Iran selama lebih dari 30 tahun itu terbunuh, para ahli tidak yakin Iran akan berakhir. Kekuasaan Iran mungkin akhirnya akan beralih ke anggota lingkaran dalamnya, seperti yang terjadi di Venezuela atau ke Garda Revolusi Iran.
Menlu AS Marco Rubio di sidang Senat AS, akhir bulan lalu, juga mengakui tidak ada yang benar-benar tahu apa yang akan terjadi jika Khamenei jatuh. AS tetap berharap ada perubahan di Iran.
Namun, menurut Mona Yacoubian dari Pusat Studi Strategis dan Internasional, Iran jauh lebih kompleks ketimbang Venezuela. Iran memiliki pusat-pusat kekuasaan yang lebih tersebar. Jika AS menyerang pemimpin tertingginya, tindakan itu dapat berujung kekacauan yang lebih parah di Iran.
Israel jelas khawatir jika terjadi perang regional. Apalagi, mengingat Iran juga punya sekutunya sendiri, termasuk kelompok Houthi di Yaman, kelompok bersenjata di Irak, Hizbullah di Lebanon, dan Hamas di Palestina.
Meski ”Poros Perlawanan” ini melemah, Israel tetap khawatir mereka bisa bersatu padu melawan AS dan Israel dari mana saja. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memperingatkan akan adanya balasan keras jika Iran menyerang Israel.
Negara-negara Teluk Arab telah lama khawatir dengan Iran dan bergantung pada AS untuk pertahanan dan keamanan. Akan tetapi, mereka tidak ingin terlibat dalam perang.
Arab Saudi dan Uni Emirat Arab, yang menampung ribuan tentara AS, telah mengatakan mereka tidak akan mengizinkan wilayah udara mereka digunakan. Mereka berupaya keras untuk mencegah perang karena ada konsekuensi yang parah, termasuk lonjakan harga minyak. (Reuters/AFP/AP)
This post is based on https://www.kompas.id/artikel/meski-lebih-unggul-as-israel-akan-menderita-jika-iran-meradang.
In related news:
- Kementerian Luar Negeri Pantau Kondisi WNI di Iran Tanggal, Kemenlu RI, 12 Januari 2026
- Kedubes Iran di Jakarta kecam keras serangan AS, Israel terhadap Iran
- Oman: Kesepakatan AS-Iran “dapat tercapai” meski Trump “tidak senang”
- Israel lancarkan serangan preemptif terhadap Iran
- Oman: Terobosan, AS-Iran sepakat nol penimbunan stok uranium
- Pertemuan darurat OKI tolak perluasan permukiman Israel
- https://dawnmena.org/from-security-guarantee-to-strategic-liability-how-war-with-iran-could-cost-washington-the-gulf/





Leave a Reply