Hanya Sekali Air Tumpah
Cerita Pendek Karya Mochtar Lubis (1950)
Malam gelap. Hari masih hujan. Tidak selebat tadi lagi. Telah berkurang. Tetapi masih turun deras. Dia berjalan dalam malam hujan itu. Aspal jalan hitam, licin berkilat di bawah tiang-tiang lampu. Basah. Di pinggir jalan tempat yang kerendahan air tergenang, dan tiap dia melangkah selop karetnya yang telah basah itu berbunyi – cap, cap, cap – ke kakinya. Dia berjalan, melangkah selangkah-selangkah, tidak perduli, kepalanya menunduk, air hujan telah mulai menembus kemejanya yang tipis. Lecutan hujan ke kepala, muka dan tubuhnya tidak terasa lagi olehnya.
Bunyi selopnya seakan-akan berbicara dengan dia. Mengajaknya bercakap-cakap dalam malam itu. Dengan sengaja dipaksanya pikirannya tidak mendengar ocehan selopnya. Air hujan menitik turun melalui keningnya, masuk ke matanya. Matanya dipejamkannya sebentar, kemudian dibukanya kembali. Tangannya dimasukkannya dalam-dalam di kedua saku celananya.
Cap-cap-cap, selopnya berlaga ke kakinya. Pulanglah, pulanglah, pulanglah! Cap-cap-cap! Pulanglah, pulanglah, pulanglah! Seruan selopnya mangkin lama mangkin keras mendesak ke dalam pikirannya. Dilawannya juga sekeras-kerasnya. Dimatikannya hatinya tidak hendak mendengar.
“Hanya sekali air tumpah!” teriaknya ke dalam malam itu menyuruh selopnya diam. Tetapi selop basah itu tidak perduli. Semangkin basah selopnya, semangkin keras bunyi selop berlanda dengan tapak kakinya, dan semangkin keras perintah selop itu – menyuruh dia pulang – cap-cap-cap, pulanglah-pulanglah-pulanglah!
“Hanya sekali air tumpah!” teriaknya kepada isterinya memukul meja.
Mereka telah lima belas menit berkelahi mulut. Entah apa sebabnya. Soal-soal kecil saja, yang sebenarnya tidak ada artinya.
Mereka baru kawin. Tetapi perkelahian antara mereka sudah sering timbul. Hampir setiap minggu paling sedikit sekali. Dan selamanya setelah berkelahi demikian, atau sedang berkelahi, jika dicari-carinya kembali sebabnya pertengkaran mereka timbul, maka tidak bisa diingatnya mengapa mereka berkelahi, dan apa yang mereka pertengkarkan sebenarnya. Hanya isterinya berteriak dengan suara jang nyaring, penuh amarah dan benci, – Memang engkau seperti laki-laki yang lain. Semuanya sama. Kalau sudah dapat perempuan, lantas bosan. Tidak perduli lagi.
Dan dia akan berkata.
“Tetapi aku tidak bosan padamu, Mirah!”
“Bohong engkau!”
“Aku tidak bohong!”
“Dusta! Laki-laki hanya mulut manis. Kalau sudah dapat, lalu bertukar. Ceraikan aku!”
“Jangan seperti kanak-kanak, Mirah!”
“Engkau yang seperti kanak-kanak!”
Dan dia mencoba diam. Dan suara isterinya mangkin keras. Mangkin dia tidak menyahut, mangkin hebat marah isterinya. Mula-mula hanya mengatakan dia seperti laki-laki yang lain juga. Kalau belum kawin, bukan main manis laku dan mulut, tetapi kalau sudah dapat, dan buah sudah dikecap, lalu bosan dan tidak perduli, dan mau cari perempuan yang lain. Dan kalau diam terus, maka isterinya mulai memaki-makinya. Laki-laki palsu, tidak tahu diuntung.
Tetapi dia diam saja. Isterinya mangkin marah. Hingga akhirnya kesabarannya sendiri habis pula, dan dia akan membentak memukul meja, memerintahkan isterinya diam.
“Sudahlah, Mirah!” katanya. “Cukup. Kalau engkau tidak berhenti….”
“Apa? Kalau aku tidak berhenti, engkau mau apa?” isterinya membalas.
“Hanya sekali air tumpah!” teriaknya kepada isterinya memukul meja.”
Dan isterinya berteriak, memukul meja pula.
“Biarlah, ceraikan saja aku sekarang juga! Sekarang juga!”
“Diam, engkau!” teriaknya. “Hanya sekali air tumpah, Mirah! Ingatlah, engkau, jika sekali aku lupa, dan memukul engkau, maka sungguh-sungguh akan putuslah antara kita. Air yang tumpah tidak bisa dituang kembali ke dalam gelas.”
Dan isterinya menangis tersedu-sedu, jika dia telah berkata demikian, terisak-isak, tubuhnya seakan-akan hendak remuk menahan tangis membanjir keluar, dan dia pergi keluar kamar, berjalan mundar-mandir. Sebentar-sebentar melihat kepada isterinya, marahnya mulai hilang, hatinya bertambah-tambah lembut, dan mangkin lama langkahnya mangkin lambat dan kecil, hingga akhirnya dia berhenti tegak dekat isterinya, yang masih terus menangis terisak-isak, berbisik-bisik di antara sedu-sedannya.
“Biarlah aku mati. Ceraikan sajalah aku. Memang engkau sudah bosan. Dari pada engkau siksa begini.
Dan dia mencangkung, duduk di sebelah isterinya, memeluk bahu isterinya, dan mencium mata, pipi dan mulut isterinya, membujuk-cumbu, hingga akhirnya isterinya terdiam, dan diangkatnya isterinya ke tempat tidur dengan penuh kasih sayang. Dan di tempat tidur mereka berbisik-bisik, panas dan penuh kasih sayang, lupa pada kata-kata yang melukai hati masing-masing yang diucapkan dalam amarah tadi. Hingga tertidur dan paginya semuanya telah dilupakan kembali.
Semuanya ini terbayang dalam pikirannya ketika malam itu dia memukul meja kuat-kuat, sudah tidak tertahan lagi amarahnya, “Cukuplah, Mirah! Telah berapa kali aku katakan padamu! Hanya sekali air tumpah!”
Dan dalam amarahnya dilakukannya sesuatu yang tidak pernah dilakukannya kalau berkelahi dengan isterinya. Tangannya menampar piring dan gelas di atas meja, hingga air tumpah, mengalir dari gelas, jatuh ke lantai, membasahi taplak meja, dan tergenang di lantai batu di bawah, bersamaan dengan bunyi dering piring pecah, berkeping-keping. Matanya menatap air yang menggenang di lantai, dan pecahan-pecahan pirang porselen putih berkilat-kilat kena cahaya lampu. Dan pemandangan itu menimbulkan sesuatu di dalam hatinya – perasaan buas ganas yang tidak pernah dirasanya – seakan-akan air yang tumpah dan piring putih yang pecah berkeping-keping menantangnya untuk melakukan ancaman-ancamannya selama ini “Hanya Sekali Air Tumpah!”
Dengan lambat-lambat dia berdiri, matanya merah, pikirannya panas membakar kepalanya.
“Hanya sekali air tumpah,” serunya dengan berang, dan ditempelengnya muka isterinya, cepat dan keras, dengan tiba-tiba. Dia berdiri, dan melangkah pergi, keluar rumah. Seperti orang mabuk, orang gila ditelinganya masih mendengking jerit isterinya, dan dia berjalan ke dalam gelap malam hujan jang agak deras itu. Begitu saja. Dalam celana pantalonnya yang tua, kemejanya dan selop rumahnya. Dia tidak tahu entah ke mana dia akan pergi. Tetapi dia tidak akan pulang lagi. Habis. Putus. Hanya sekali air tumpah! Hanya sekali air tumpah! Hanya sekali air tumpah! bisik-bisik titik hujan jatuh ke rambutnya dan mengalir ke belakang telinganya. Cap-cap-cap! – Pulanglah-Pulanglah-pulanglah! oceh selopnya yang basah beradu dengan telapak kakinya. Jerit isterinya terkejut kena pukulannya masih mendenging dalam telinganya. Dia melangkah terus juga. Pulanglah – Pulanglah – Pulanglah! oceh selopnya.
Isterinya menangis tersedu-sedu, terisak-isak, dadanya seakan-akan hendak remuk pecah karena tangis yang hendak keluar, terbaring di lantai, dan dia mencangkung duduk di sebelah isterinya, memeluk dan menciumi isterinya, meminta-minta maaf, hingga akhirnya isterinya terdiam, hanya menangis sedikit-sedikit, meminta-minta ampun dan maaf pula.
“Ampunilah aku, Syah. Aku tidak akan begitu lagi. Sungguh!”
“Tidak, Mirah! Aku yang salah, Mirah! Ampunilah aku, Mirah!”
“Tukarlah bajumu, Syah. Nanti engkau masuk [angin.] Engkau basah kuyup. Dan isterinya menyediakan baju yang kering untuknya, dan dia membuka pakaiannya yang basah. Isterinya menolong memasangkan bajunya, dan sambil bercumbu-cumbu, sumpah-bersumpah akan setia terus-menerus, dan Mirah berjanji dan dia berjanji tidak akan begitu-begitu lagi, jauh dalam hati kecilnya dia merasa juga, airnya telah tumpah sekali, dan semuanya akan berulang kembali dengan akhir yang sama juga.
Sumber: Batu Dadu (Dice) adalah cerita pendek dari kumpulan cerita pendek karya Mochtar Lubis, Si Djamal : dan tjerita2 lain / oleh Mochtar Lubis, Gapura, Djakarta, 1950, h. 90. Kredit foto: Getty Images. Sukarno dan Keluarga (Keterangan Asli) 11/3/1946 – Batavia, Jawa, Indonesia – Dr. I.R. Sukarno, pemimpin Nasionalis dan Presiden pemerintah Indonesia, bersama istri dan putranya, Guntur, tampak di rumah mereka. Seluruh dunia memperhatikan pria ini, yang meskipun berkuasa selama pendudukan Jepang, berhasil mempertahankan kekuasaannya. Perdamaian dan kemakmuran 80.000.000 rakyat Indonesia bergantung pada keputusannya. Sukarno and Family (Original Caption) 3/11/1946-Batavia, Java, Indonesia- Dr. I.R. Sukarno, Nationalist leader and President of the Indonesian government, with his wife and son, Guntur, shown at their home. The eyes of the entire world are on this man, who, although he was in power during the Japanese occupation, has managed to retain his authority. The peace and prosperity of 80,000,000 Indonesians depend on his decisions.





Leave a Reply