Bendera

Cerita Pendek Karya Utuy Tatang Sontani (1950)

AYAH berkata, bahwa hari permulaan kita dibolehkan bahkan dianjurkan mesti mengibarkan bendera merah-putih di halaman rumah kita, adalah hari Indonesia sudah betul-betul merdeka, setelah bertahun-tahun lamanya berjuang melawan penjajah. Tapi pada hari itu ajah bertengkaran kata dengan tetangga. Dan terus terang kukatakan, bahwa hatiku cemas mendengarkannya, sebab tetangga itu orang kaya jang terpandang dikam-pung kami, sedang ajah hanya seorang tukang dagang sigaret saja.

Tapi bagi ajah rupanya kekayaan orang itu tidak dihiraukan. Ketika ia sehabis bertengkar mendapatkan aku dan ibu, masih saja mukanya merah padam menunjukkan kemarahan yang tidak terbada-bada. Dan katanya dengan sinar mata berapi-api: “Harus diajar manusia itu, harus diajar! Gampang saja mencemoohkan bendera kita yang kelihatannya sudah usang. Apakah harga bendera yang dikibarkannya, yang meskipun kelihatan masih baru dan besar, tapi didapat dengan dibeli dari toko? Hh, bendera dibeli, sama saja dengan jalang!” Dan sambungnya diarahkan kepadaku: “Tun, harus kauingat selalu, ya? Ingat selalu, bahwa bendera kita yang nampaknya sudah usang itu adalah bendera yang berhak berkibar pada hari sekarang dan pada hari-hari besar selanjutnya; lebih berhak daripada bendera orang-orang kaya. Sebab bendera kita bukan kita dapati dengan ditukari duit!”

Sambil menatap mataku ia berkata demikian, terasa mengajak aku seketika itu juga pergi kehalaman rumah melihat bendera yang berkibar di sana. Kutatap bendera itu, kubanding-bandingkan dengan bendera orang lain. Ya, bendera di halaman rumah kami warna merahnya sudah luntur dan warna putihnya sudah ke kuning-kuningan. Tapi bagiku nampaknya gagah, lebih gagah dari bendera kepunyaan siapapun juga. Serasa-rasa dalam kibarannya itu ada terbayang kedua abangku jang sudah meninggal dunia tersenyum kepadaku dan berkata: “Tun, lanjutkan perjuangan kami!”

Teringat aku ke masa yang lalu. Ketika itu aku baru berumur 4 tahun. Tapi aku masih ingat betapa gembiranya abangku yang sulung ketika mengenakan pakaian hijaunya dan berpamitan kepada ibu. Katanya: “Bu, saya akan pergi keluar Jawa bersama tentara Dai Nippon.” Dan ibu menangis. Tapi abang berkata lagi: “Kalau ibu menangis, berarti ibu orang kuno, masih merasa hidup di zaman penjajahan Belanda. Sekarang sudah menjadi kewajiban pemuda semacam saya membela tanah air, supaya bendera kita merah-putih yang mulai sekarang berkibar di samping bendera Dai Nippon, terus berkibar sampai ke akhir zaman.” Akhirnya ibu mengizinkan juga, sekalipun dengan menyapu-nyapu mata.

Semenjak abangku yang sulung itu berangkat, seringkali ibu berpuasa. Dan ayah sering bulak-balik ke suatu kantor. Mulanya, setiap ayah pulang dari kantor itu, selalu wajahnya gembira. Dan katanya kepada ibu: “Harus kita bangga mempunyai anak seorang pahlawan. Dia sekarang ada di Anu.” Tapi lama-kelamaan pergi ayah ke kantor itu jadi jarang. Akhirnya ia tidak pergi lagi ke sana, setelah ia pada suatu hari berkata kepada bu:.. Tak ada lagi perhubungan dengan anak kita. Dia sudah gugur sebagai ratna.” Dan abangku yang seorang lagi, mendengar perkataan itu menepuk-nepuk dada: ujarnya: “Kalau dia mati sebagai pahlawan, akupun mesti melanjutkan jejaknya!”

Dan itu sebenarnya. Masih ingat aku, ketika pada suatu hari orang-orang pada ribut membicarakan ada Belanda Indo akan menurunkan bendera merah-putih yang dikibarkan di atas suatu gedung, abang ribut mencari golok dan ikut pergi bersama orang banyak hendak menggeropyok Belanda Indo itu. Masih membayang pula di mataku betapa merah mukanya ketika ia pulang ke rumah melemparkan kata kepada ayah: “Mulai sekarang, siapa yang berani menodai bendera merah-putih, harus kita bunuh, ayah, sebab orang begitu adalah musuh kemerdekaan kita!”

Tapi semenjak waktu itu aku tidak sering melihat abang. Sebagai penduduk kota, kami mesti meninggalkan kota, lantaran di kota sering terjadi pertempuran. Aku mengikut ayah dan ibu pergi ke suatu pegunungan, dan abang pergi bersama kawan-kawannya entah ke mana. Baru setelah lama kami diam di pegunungan, abang datang menemui kami. Ia memanggul senapan, sedap aku memandangnya. Baju dan celananya kotor-kotor tidak keruan, rambutnya panjang dan mukanya menunjukkan jarang mandi dan kurang tidur. Ibu heran melihat perubahan pada diri abang. Tapi abang menjawab: “Sekarang zaman revolusi, bu. Tak apa aku kotor, asal senapanku ini dapat membikin mampus banyak orang Belanda yang mau menambahkan lagi warna biru pada bendera kita merah-putih.”

Kalau tak salah, pernah tiga kali dia menemui kami. Tapi setelah itu dia tak ada kabar beritanya lagi. Setelah ayah ada niat akan kembali ke kota, baru kami mendapat kabar tentang abang. Kabar itu dibawa oleh seorang temannya yang datang menyerahkan bendera merah-putih kepada ayah. Kata teman abang itu: “Anak bapak sudah gugur memenuhi panggilan suci. Pesannya ialah supaya bapak menyimpan bendera ini baik-baik.”

Kepadaku, juga kepada ibu, ayah tak banyak berkata tentang bendera itu. Tapi aku tahu betul bahwa bendera itu disimpannya baik-baik. Dan setelah kami sudah pindah ke kota, ketika pada suatu hari kampung kami digeladah oleh tentara Belanda, kelihatan ayah gelisah. Tak salah lagi ia takut kalau-kalau rumah kamipun digeladah dan nanti bendera merah-putih itu diketemukan. Sebab kalau terjadi demikian, sudah pasti ayah ditawan.

Ya, kalau kuingat-ingat peristiwa yang lalu, tak usah aku heran mengapa pada hari permulaan dibolehkannya mengibarkan bendera merah-putih di tiap halaman rumah kita, ayah yang tadinya tidak banyak berkata tentang bendera itu, tiba-tiba mencekcokkan perkara bendera dengan tetangga. Tahu aku bahwa bendera orang lain yang nampaknya baru itu didapat dengan dibeli dari toko, sedang bendera kami adalah kenangan kepada abang-abangku. Dari itu akupun sudah semestinya berjanji akan menyimpan perkataan ayah tadi di dalam hati dan akan selalu membanggakan bendera pusaka kami itu pada setiap dia melambai di tiang.

Sayang, hari besar yang mesti dirayakan dengan pengibaran bendera merah-putih itu tidak terjadi tiap minggu, bahkan tidak sekali dalam sebulan. Padahal setelah sekali kita dianjurkan mesti mengibarkan bendera merah-putih, baiknya terus-terusan kita sering mengibarkannya. Bukankah kalau kita sudah betul-betul merdeka, bendera merah-putih itu tak boleh lagi dibiarkan tersembunyi dalam lipatan? Ya, mengapa kita tidak kibarkan saja bendera kita itu misalnya pada hari besar Miraj Nabi atau pada hari besar lebaran?

Iseng-iseng pada hari menjelang lebaran kutanyakan kepada ayah apa alangannya mengibarkan bendera merah-putih pada hari lebaran. Ayah menjawab bahwa kita mesti melakukan kebiasaan-kebiasaan yang sudah biasa berlaku pada hari lebaran. Dan jika kususul lagi dengan pertanyaan: “Apakah kebiasaan itu?” mulanya ayah tak mau menjawab. Setelah didesak baru ia bersuara: “Kebiasaan pada hari lebaran ialah engkau, ibumu dan ayahmu ganti pakaian.”

Nampak ayah berperangai susah. Tapi buat apa perangai ayah itu lama kupikir? Bagiku, kalau pada hari lebaran aku memakai pakaian baru, adalah bahagiaku di hari itu seperti aku ada melihat banyak bendera merah-putih berkibar di angkasa. Tak hendak kupikirkan panjang ayah tidak kelihatan ganti pakaian dan ibupun tidak kelihatan ganti pakaian.

Tapi seminggu setelah lebaran, aku melihat ayah mencabut tiang bendera. Ini tak boleh kubiarkan lalu di mata. Akupun melompat ke dekatnya dan bertanya: “Mau diapakan tiang bendera itu?”

“Kita jadikan kayu bakar,” jawabnya.

Terengah-engah kulompatkan lagi pertanyaan: “Mengapa? Kan itu ‘tiang bendera!”

“Tapi kita tak ada uang untuk membeli kayu bakar,” jawab ayah. Dan tambahnya: “Tiang bendera gampang saja, Tun. Nanti kita bikin lagi yang lebih bagus dan lebih tinggi.”

Wahai, kalau janji ayah itu sudah dapat dibuktikan. kalau tiang bendera yang baru itu betul-betul lebih tinggi! Akan nampak nanti pada hari besar yang akan datang bendera pusaka kami berkibar-kibar menjulang di tiang tinggi, lebih tinggi daripada bendera-bendera orang lain. Akan lebih jelas nanti nampaknya senyum kedua sabangku! Dan itu orang kaya tetangga yang pernah bertengkar dengan ayah boleh membungkuk-bungkuk di hadapan ayah!

Tapi kapan ayah akan membikin tiang bendera yang baru? Hari besar sudah mendekat, ayah belum juga kelihatan memesan bambu. Dan sehari sebelum hari besar itu datang, masih juga ayah belum kelihatan memikirkan akan memenuhi janjinya.

Tak kuat menahan kesabaran, kutanyakan hal itu dengan cara yang mendesak.

Ayah tidak menjawab. Ia memandang kepada ibu, dan ibu memandang kepadaku. Lama dulu baru ibu memperdengarkan suaranya. Katanya: “Engkau masih kanak-kanak, Tun, tak akan tahu apa yang mesti dipikir oleh orang-orang tua. Ayahmu tidak hanya memikirkan tiang bendera saja.”

Tapi besok hari besar,” balasku membatu. “Besok hari yang mesti dirayakan dengan pengibaran bendera.”

Tiba-tiba ayah bangkit berdiri. Matanya ditatapkan kepadaku. Katanya: “Bendera apa yang akan kaukibarkan besok?”

“Bendera kita,” jawabku, bendera merah-putih dari abang itu.”

Kusangka ayah akan berhenti menatap aku. Tapi matanya malah kian jelas menyalakan api. Entah apa sebabnya aku tak mengerti. Lebih tidak mengerti lagi ucapannya yang diperdengarkan sebagai balasan. Mendenging bunjinya ditelinga:

“Sangkamu setelah kita dibolehkan mengibarkan bendera merah-putih itu, engkau bisa murah membeli kain dan bisa gampang mengganti pakaian di hari lebaran? Bah, dasar kanak-kanak! Kibarkanlah di hari besok kutang ibumu dan celana dalam ayahmu! Itulah benderamu! Tahu?”

Tak sanggup aku berkata lagi. Apa lagi melihat wajah ayah, aku tak berani. Rasanya selama hidup baru sekali itu aku melihat ayah marah kepadaku.

Dan pada keesokan harinya, di kala orang lain pada mengibarkan bendera merah-putih di halaman rumahnya masing-masing, aku berpendapat lebih baik pergi saja meninggalkan rumah. Sebab buat apa diam di rumah, kalau di halamannya tidak ada berkibar bendera merah-putih?


Sumber: Utuy Tatang Sontani, Orang-Orang Sial: Sekumpulan cerita tahun 1948-1950, Balai Pustaka, B.P. No. 1847, Djakarta, 1951. Urutan cerita menurut waktu dikarangnya. Digambari oleh Ooq. Foto: Getty Images. Aktivis kelompok Aksi Palestina mengadakan demonstrasi darurat karena kelompok mereka akan dilarang oleh pemerintah Inggris. LONDON, INGGRIS – 23 Juni 2025: Seorang demonstran memegang bendera negara Palestina di depan seorang petugas polisi di demonstrasi Aksi Palestina di Trafalgar Square pada tanggal 23 Juni 2025 di London, Inggris. Anggota kelompok kampanye Aksi Palestina (PA) telah mengadakan demonstrasi darurat karena Menteri Dalam Negeri Yvette Cooper dilaporkan akan melarang kelompok tersebut. Pada hari Jumat, 20 Juni, anggota Aksi Palestina menerobos masuk ke pangkalan AL Inggris Brize Norton dengan skuter listrik dan menyemprot dua pesawat Voyager dengan cat merah. (Foto oleh Leon Neal/Getty Images)

Bibliografi

  • Utuy Tatang Sontani, 1948, Bunga Rumah Makan. Pertundjukan watak dalam satu babak. B.P. 1650. 32 pp. 2nd. ed. 1954.
  • Utuy Tatang Sontani, 1948, Suling. B.P. 1651. 92 pp.
  • Utuy Tatang Sontani, 1949, Tambera. B.P. 1671. 279 pp. 2nd. ed. 1952. (Google Books)
  • Utuy Tatang Sontani, 1951, Orang-Orang Sial. B.P. 1847. 119 pp. 2nd ed. Bandung 1963, with an additional story.
  • Utuy Tatang Sontani, 1952, Awal dan Mira. Drama satu babak. B.P. 1887. (Earlier in Indonesia 2, 1951, p. 79-102).
  • Utuy Tatang Sontani, 1953, Manusia Iseng (drama satu babak). Indonesia 4.8/9, p. 473-87.
  • Utuy Tatang Sontani, 1953, Sangkuriang Indonesia 4.10, p. 594-601. Dajang Sumbi (drama 3 babak).
  • Utuy Tatang Sontani, 1954, Sajang ada Orang Lain (drama satu babak). Indo-nesia 5.5/6, p. 261-80.
  • Utuy Tatang Sontani, 1955, Dilangit Ada Bintang (Drama satu babak). Indonesia 6.2, p. 61-75.
  • Utuy Tatang Sontani, 1955, Sang Kuriang. Seni 1, 11 and 12, p. 483-511 and 531-542.
  • Utuy Tatang Sontani, 1957, Saat jang Genting (drama satu babak). Indonesia 8.3, p. 133-44.
  • Utuy Tatang Sontani, 1963, Selamat Djalan, Anak Kafur (sandiwara satu babak). Bukittinggi-Djakarta. 59 pp. (Two stories, publ. earlier in Indonesia 7.8 and 8.3.)
  • Utuy Tatang Sontani, 1964, Si Sapar. Sebuah novelette tentang kehidupan penarik betjak di Djakarta. Djakarta. 48 pp. (Internet Archive)
  • Utuy Tatang Sontani, 1964, Si Kampeng. Djakarta. 36 pp.
  • Penyumbang Wikipedia. (2026, July 26). Utuy Tatang Sontani. Wikimedia Foundation. Wikipedia. https://id.wikipedia.org/wiki/Utuy_Tatang_Sontani

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Trending

Discover more with Stories From Indonesia

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue Reading