Rumah Susun

Cerita Pendek Karya Pamudji MS (1985)

Namaku Hendro Sujono. Pekerjaan makelaran mobil. Istriku bernama Naryati. Kami tergolong pengantin baru. Dulu aku berdiam di rumah kost, tetapi sejak pernikahanku sudah barang tentu aku harus meninggalkan rumah kost itu. Mulanya sehabis menikah dengan istriku, aku ingin mengontrak rumah saja, namun istriku tak mau. Pertimbangan ekonomis wanita umumnya membuat istriku merasa rugi kalau harus kontrak rumah. Sama-sama membayar tiap bulan, ia merasa lebih baik tinggal di rumah cicilan, yang nantinya akan bisa menjadi milik sendiri.

Satu hal yang harus anda ketahui ialah bahwa aku benci segala hal yang serba seragam. Itulah sebabnya sejak dulu aku suka memelihara rambut agak gondrong dan berjenggot. Maka sungguh sulit bagi hatiku untuk bisa dengan enak saja menghuni rumah cicilan yang biasanya bentuknya sama. Aku terlebih-lebih benci kepada rumah susun. Sebuah bangunan raksasa berkotak-kotak mirip kandang ayam ras. Tidak cuma kandangnya, tetapi sampai ayam-ayamnya pun seragam. Celakanya, rumah cicilan yang kuhuni sekarang ini adalah rumah susun juga adanya. Demikianlah awal kehidupan berkeluarga bagiku adalah awal dengan kesialan.

Dengan rambut gondrong dan cambang brewok, aku tak perduli dianggap orang mirip gendruwo, asal antara aku dengan orang lain gampang dibedakan. Dengan tekad untuk tidak mau menjadi seragam atau diseragamkan mirip ayam ras, aku mulai mendiami salah satu kotak di antara ribuan kotak dalam rumah susun raksasa yang seragam. Tempat tinggalku di tingkat tujuh, ditandai dengan nomor 759. Demikianlah hidup berkeluarga kumulai dengan menjadi keluarga yang ditandai dengan nomer itu.

Dalam rangka ingin melawan keseragaman dan menunjukkan kepribadian, sengaja aku ingin mengisi rumahku dengan meubel ukiran dari Jepara. Tetapi sebab tangga naik ke tempat tinggalku tak seberapa lebar, maka semua meubel Jepara yang besar-besar itu tak bisa diangkat ke atas, ke tingkat tujuh. Lorong di sepanjang tingkat tujuh di mana tempat tinggalku berada pun terlalu sempit untuk bisa dilewati sebuah lemari atau dipan. Para tetangga di rumah susun yang mirip kandang ayam itu pun segera beramai-ramai memberi saran, agar aku membeli meubel yang kecil saja, supaya mudah mengangkatnya ke rumahku. Karena aku pun tak ingin dianggap orang tolol, segera saja kujual semua meubel Jepara yang sudah kubeli itu, dan sebagai gantinya kubeli meubel modern dari kayu-kayu kaku berbeludru yang kecil ukurannya.

“Wah, meubel ini persis miliknya bu Maryati,” ucap tetangga nomer 758 mengejutkanku. Se-orang ibu gembrot mirip ayam siap bertelur.

“Apa? Persis miliknya bu Maryati?” tanyaku tersinggung.

“Ya!” jawabnya enak saja.

“Bu Maryati yang mana?” tanyaku lagi.

“Yang tinggal di rumah nomer 795 itu lho, mas”, sela istriku yang agaknya sudah cukup paham keadaan di tingkat tujuh rumah susun itu. Kontan saja indera keenamku bak alarm menderingkan tanda bahaya. Bu Maryati di rumah nomer 795. Ini kelak pasti akan menimbulkan kesulitan bagiku. Bukankah namanya nyaris sama dengan nama istriku, dan nomer rumahnya pun hampir sama dengan nomer rumahku?

Bermula dari meubel yang kubeli yang konon persis sama dengan meubel yang dimiliki bu Mariyati itu, perabotan-perabotan yang kubeli belakangan pun ternyata selalu sama dengan yang dipunyai oleh keluarga bu Maryati itu. Ketika persamaan-persamaan akan perabotan ruma tangga itu diceritakan oleh istriku, tak terbendung lagi rasa ingin tahuku.

“Kira-kira berapa sih usianya bu Maryati itu?”

Kira-kira sama dengan aku, mas,” jawab istriku lebih mengejutkan aku. Aku berusaha menguasai diri sebisa-bisa, seraya kembali bertanya, “Hmm, sudah berapa anaknya?”

“Dia juga belum punya anak koq, mas,” jawab istriku.

“Sudah berapa lama mereka menikah, koq belum punya anak juga?”

“Mereka juga kira-kira baru 3 bulan menikah, seperti kita,” jawab istriku yang kali ini sungguh memusingkan kepalaku. Kalau begitu, keadaan bu Maryati persis sekali dengan keadaan keluargaku. Apakah benar di dunia ini ada orang-orang yang mengalami kejadian-kejadian seragam?

“Jadi mereka pengantin baru pula?” desakku.

“Ya, mereka pun pengantin baru”, jawab istriku. Segera saja aku diganggu oleh jalan pikiranku sendiri yang serabutan. Apakah mungkin Tuhan mengeluarkan suratan nasib yang seragam bagi dua pasang insan? Ahh, Tuhan pasti tak pernah berbuat demikian, hiburku kepada diri sendiri. Dari dua suratan nasib yang sama itu, salah satu-nya pasti hasil fotokopi, dan yang lainnya yang asli. Tetapi yang manakah suratan nasib yang asli, yang dijalani bu Maryati, atau yang dijalani Naryati, istriku? Ahh, sungguh tidak gampang untuk mengusut soal ini.

Pada hari yang lain, aku kembali diusik oleh kesamaan-kesamaan aneh yang ada di antara keluargaku dengan keluarga bu Maryati itu.

“Mas, para tetangga bilang bahwa bukan hanya antara aku dan bu Maryati saja yang terjadi banyak kesamaan”, ujar istriku suatu malam.

“Apa maksudmu?” tanyaku ingin tahu.

“Antara kau dengan suami bu Maryati pun konon punya banyak kesamaan atau persamaan.

“Persamaan macam apa pula?”

“Kau dan suaminya bu Maryati sama-sama suka berganti-ganti mobil.”

“Apa??”

Bukan main kagetnya aku, hingga untuk sesaat tak mampu berbicara.

“Bahkan sore tadi para tetangga memperbincangkan, bahwa mobil yang kau bawa pulang dengan yang dibawa suaminya bu Maryati persis sama,” ucap istriku seolah ingin menegaskan.

“Sama, apa maksudmu? Apa warna mobil yang dibawa suaminya bu Maryati itu?” desakku.

“Hijau.”

“Apa merknya?”

“Toyota Corola,” jawab istriku, dan seketika keringat dingin membasahi sekujur tubuhku. Jabang bayi, gumamku dalam hati. Mungkinkah dalam kehidupan ada kesamaan-kesamaan yang dialami oleh orang yang berlainan sampai seaneh seperti ini?

Tetapi agaknya kehidupan selalu menyediakan keanehan demi keanehan bagi manusia, maupun bagi ayam ras seperti aku. Dan keanehan sering pula muncul di antara penderitaan manusia. Demikianlah, pada suatu hari aku menerima telegram dari ibuku, yang mengabarkan bahwa ayahku meninggal. Padahal saat itu istriku pun sedang jatuh sakit. Karena aku harus hadir dalam acara pemakaman ayahku, maka terpaksa kutinggalkan istriku di rumah, ditemani ibu mertua. Bergegas dalam cemas aku pergi ke rumah orang tuaku di lain kota.

Sesampainya di rumah orang tua, ibuku segera menghamburkan diri ke tubuhku dengan tangis terbata-bata. Kedua orang adik perempuanku juga sudah tersedu-sedu di kaki jenasah ayah, ditunggui suami-suami mereka. Untunglah selaku anak sulung aku mampu menguasai diriku, hingga aku bisa menghibur kesedihan ibu. Kedua adik perempuanku pun akhirnya mampu mengusap airmatanya, setelah kucium masing-masing dahinya.

“Tabahkanlah hatimu, tabahkanlah hatimu…,” ucapku kepada mereka semua. Aku sendiri seperti tak sadar, entah dari mana kuperoleh kalimat pendek yang bertuah itu. Mendadak seorang tetangga memanggilku, dan mengatakan bahwa aku diinterlokal oleh istriku melalui pesawat telepon miliknya. Bergegas aku mengikuti langkah orang itu menuju ke rumahnya, dan dengan terburu-buru pula kurangkap gagang telepon itu.
“Hallo! Mas Hendro Sujono?” suara istriku dari sana.

“Benar! Ini aku sendiri, Naryati.”

“Anu koq, mas. Ada kekeliruan dengan telegram itu.”

“Kekeliruan apa?” tanyaku.

“Telegram itu sebenarnya tidak ditujukan kepadamu, melainkan kepada pak Hendro Suyono, suami bu Maryati tetangga kita,” ujar istriku lebih mengejutkan lagi. Dan ketika lewat telepon itu juga kukatakan kepada istriku, bahwa ayahku pun meninggal pula, yang terdengar cuma pekik istriku. Telepon itu sampai putus dengan sendirinya, ketika otakku justru terasa menjadi kosong sama sekali. Ya, sepertinya saat itu tak ada sesuatu pun yang berada di dalam pikiranku.

Menuruti adat Jawa, baru seminggu setelah upacara pemakaman ayah dilakukan, aku pulang kembali ke rumahku. Pikiranku masih kusut sampai detik itu. Di depan pintu rumahku di rumah susun itu, kulihat sepasang sepatu pria tergeletak. Aneh sekali, sepatu ini persis sama dengan sepatu yang kukenakan. Kusorongkan sepatuku persis di sebelah sepasang sepatu itu, dan aku jadi geleng-geleng kepala. Nyaris tak ada bedanya. Tiba-tiba aku tersadar. Kalau demikian, pintu rumah ini pasti bukan pintu rumahku. Kulihat nomer yang tertera di pintu, nomer 759. Kucoba mengingat-ingat. Ahh, nomer rumahku memang hampir sama angka-angkanya dengan nomer rumah ini. Ya. Aku yakin kini, bahwa nomer rumahku adalah 795.

Kutelusuri lorong di tingkat tujuh yang sudah sepi di malam hari itu. Ahh, mungkin malam telah cukup larut sehingga tak ada orang yang keluar, kata hatiku. Dan di antara deretan kotak-kotak itu, akhirnya kutemukan juga rumahku, nomer 795. Segera aku masuk ke dalam sebab kebetulan pintunya tak terkunci. Kucopoti sepatu dan kaus kaki di kamar tamu. Dan ketika aku hendak mencopot celana panjangku, mendadak muncul seseorang wanita yang tak kukenal, dan wanita itu berteriak:

“Maling!”

Maling? Aku tercenung sesaat. Wanita itu nampaknya memang bukan istriku. Ini berarti aku telah memasuki rumah yang keliru. Segera saja celana kurapatkan lagi, seraya menjinjing sepatu aku pun berlari ke luar dari rumah itu. Terengah-engah aku berlari di sepanjang lorong itu tanpa berani menengok ke belakang. Dengan kelelahan sekali aku pun jatuh terduduk di sebuah tempat. Sehabis mengatur napas, pandanganku menatap berkeliling dari ujung ke ujung di lorong itu. Suasana tetap sepi. Cuma seekor tikus mencicit dan berlalu. Beberapa meter di hadapanku ada pintu yang berderak-derak, seperti hendak dibuka dari dalam. Pada pintu itu tertulis nomer 759. Ahh, ini pasti yang betul-betul rumahku, pikirku. Tetapi kenapa sepasang sepatu pria yang mirip sepatuku tadi, sekarang sudah tidak ada?

Pintu itu pun berderak, lalu terbuka. Dari dalam muncul sepasang sejoli. Setelah si wanita kembali menutup pintu rumah itu, sepasang sejoli itu pun berjalan bersama menuju ke ujung lorong sana. Keduanya memang membelakangiku. Tetapi dalam posisi seperti itu, samar-samar kukenal bahwa si wanita itu mirip istriku. Dan ketika mereka melewati sebuah lampu, aku berani memastikan bahwa dia benar-benar istriku yang dulu. Tetapi kenapa dia pergi berpasangan bukan dengan aku? Kukucek-kucek mataku, namun tak juga berubah pemandanganku. Ahh, kalau begitu mungkin dia bukan istriku. Bukankah di dunia ini ada cukup banyak orang yang hampir sama tubuh dan wajahnya?

Tidak, kata hatiku yang lain lagi. Wanita itu pasti istriku. Ya, wanita itu adalah Naryati. Tetapi kenapa ia tidak berjalan bergandeng tangan dengan aku? Ahh, tetapi tentu saja wanita itu berjalan bergandeng tangan dengan suaminya. Bukankah di negeri ini tak ada wanita yang cukup berani berjalan di sekitar rumahnya bergandeng tangan dengan pria bukan suaminya? Ya, pria itu pastilah suaminya. Kalau begitu, pria itu pastilah aku. Pria itu pasti Hendro Sujono, sang makelar mobil. Kalau pria itu Hendro Sujono, lalu siapakah aku? Siapakah aku yang mengalami kesulitan hanya untuk menemukan rumahnya sendiri ini? Ahh, mungkin saja aku adalah orang lain. Artinya aku bukanlah aku. Ya. Benar begitu. Tetapi siapakah aku??! Siapa????!!!!


Cerita pendek Rumah Susun karya Pamudji MS diterbitkan di harian Suara Mereka tanggal 10 Maret 1985. Pengarang: Pamudji MS adalah komikus keturunan Jepang (ayah) dan Jawa (ibu). Oleh karena itu ia juga mempunyai nama Jepang, Otsuka Isamu. Selain komikus, ia juga dikenal sebagai kartunis, pelukis dan penulis. Karyanya dimuat di berbagai suratkabar Semarang dengan nama samaran Jokerot dan Otsuka Isamu. Terakhir berdomisili di Ambarawa dan membuat KARAMBA (Komunitas Komik Ambarawa) pada tahun 2007. Selain komikus, ia juga dikenal sebagai kartunis, pelukis dan penulis. Karyanya dimuat di berbagai suratkabar Semarang dengan nama samaran Jokerot dan Otsuka Isamu. Beliau wafat pada tanggal 14 Nopember 2010.

Karya Komik:
– Api Dalam Hati
– Badai Laut Selatan (1972)
– Flipper
– Gajah Mada
– Hantjurnja Serikat Empat Setan (1970)
– Kumbara (1978)
– Lembah Malaikat (1972)
– Melati Revolusi
– Menantang Hukum Buas
– Perempuan
– Persekutuan Manusia Setan (1973)
– Puteri Hantu (1972, 6 jilid)

Kami dari Akademi Samali bertemu beliau di Pusat Kebudayaan Jawa Tengah Solo Oktober 2009
Kami dari Akademi Samali bertemu beliau di Pusat Kebudayaan Jawa Tengah Solo Oktober 2009

Hari ini sebelas tahun yang lalu, komikus Pamudji MS (Otsuka Isamu) berpulang. Rumah duka di Ambarawa, Jawa Tengah. Akademi Samali atau Aksam adalah tempat para penggemar komik yang terbentuk tahun 2005. Merupakan tempat berbagi, belajar, diskusi, penerbitan dan penganugerahan (Kosasih Award) komik-komik Indonesia. Diyan Bijac, Nov 15, 2021

Sumber: https://komikindonesia.com/komikus/pamudji-ms/ dan https://cergamindo.blogspot.com/2020/09/pamudji-ms.html.

Belum Sempet Baca Edisi Pertama?? Kumpulan Cergam Kampungan: Romansa, Penerbit Gajah Jambon, 2010

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Trending

Discover more with Stories From Indonesia

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue Reading