Tinjaulah Dunia Sana

Cerpen Karya Maria Amin (1942)

Alangkah bagusnya hari sepagi ini.

Ke gedung aquarium, kawan. Marilah kita ke sana, melihat ikan yang sedang berenang-renang di dalam air yang jernih.

Ke sebelah kanan kawan, sebab sebelah kiri penuh sesak teman-teman kita yang datang melihat pula.

Lihat, Lepu Ajam, ikan ganjil. Sirip dan ekornya tumbuh melebihi panjangnya dari ikan biasa, sehingga merupakan ayam Kalkun. Warna yang kemerah-merahan bercampur putih itu, sepadan dengan lenggoknya perlahan-lahan di air tenang. Semua teman-teman tidak diperdulikannya. Dengan sombong katanya, “Adakah lagi yang melebihi kebagusan dan kegagahanku? Akulah raja keindahan di air ini. Lihatlah mereka lari, malu seraya menyingkirkan diri”.

Sinar matahari menembus air beriak itu, sehingga bayang-bayang di pasir menari-nari.

Teman, tertarik pula kita melihat ke sebelahnya, oleh ikan yang kecil-kecil berkejar-kejaran dalam bunga karang. Badan yang hampir bulat dan gepeng itu lancar berenang dan tanda hitam bulat dekat pinggangnya itu cocok benar dengan namanya Giru-Tanda-Tanda. Tubuhnya kemerah-merahan, sewarna dengan bunga karang tempat ia bersembunyi, supaya tubuh kecil yang selalu terancam itu terhindar dari gangguan ikan besar. Bukankah siapa yang hendak selamat haruslah mencocokkan diri dengan keadaan disekelilingnya? Hidupnya berkawan-kawan. Jika ada saja ikan yang agak lebih besar menghampiri, lekas-lekas ia lari bersembunyi di dalam pelukan bunga karang itu, yang seperti seorang ibu girang menyambut anaknya pulang dari berjalan jauh. Ikan kecil itu mengerti, bahwa oleh bunga karanglah hidupnya selamat.

Sebab itulah tanaman yang berjasa itu mendapat pupuk dari kotoran binatang itu.

Teman, kita angsur sedikit melihat ke sana. Ikan Bendera, teman. Tahukah apa sebabnya dikatakan Ikan Bendera? Pada punggungnya ada sirip yang runcing melengkung ke belakang merupakan bendera diembus angin keras. Megah dan tangkas ikan ini, sebagai perajurit mencari lawan, mendudu ke segenap penjuru, ke segala plosok.

Dengarkanlah sumpah sakti perajurit itu: “Bendera ini adalah jiwa raga kami, hilang ia …… musnah kami.”

Melaju saja kawan kita, ikan itu.

Alangkah bagusnya teman, ikan Kenari. Warnanya biru bercampur hijau berkilat-kilat dan kuning kemerah-merahan seperti warna runi di langit. Bentuk badannya bagus, biasa. Menarik hati kita benar lakunya. Mulutnya bergigi kecil-kecil agak menganga. Lidah yang kecil itu sebentar-sebentar dinaikannya kelangit-langitnya, sambil bernyanyilah ia, “La la la la.” Lakunya seperti ini jika ia sudah puas berlari-larian, melagakkan warna yang bagus itu. Sebentar ia lari ke pojok, terasing dari yang lain, seraya bernyanyilah ia melagukan lagunya. Pikirnya biarlah mereka tidak mengerti akan daku, tetapi tiada mengapa, mengerti atau tidak mengeri bukan soalku.

Tetapi mengapa ikan Bibir Tebal engkau mencemooh saja? Tidakkah bersyukur hidupmu berdamping dengan ikan Kenari yang sebagus dan segembira itu? Badanmu besar, sedang ekormu sekecil itu agak menyolok mataku, jika engkau berdampingan dengan temanmu ikan Kenari, si Dewi air itu. Heran aku melihat dunia sebagus ini, melihat temanmu ria gembira menyambut sinar, engkau hanya menyebil saja sepanjang hari dengan bibir tebalmu itu. Mencemooh saja kawan ini. Tidaklah kau ketahui bahwa alam ini penuh dengan keindahan juga?

Ha, ha, inilah dia ikan Sembilang Karang. Badannya sebesar teri itu, serta muncungnya seperti paus. Jika kawannya yang seekor mendapat makanan, yang lain berkejar-kejaran berebut-rebut. Tidak pernah mereka berbantah jika bagian itu tidak adil. Jika yang seekor menyimpang jalan menyepi-nyepi diri, segera serombongan temannya yang melaju itu serentak berbalik mengejar yang terpencil itu, seraya membujuk. “Jangan lari adikku sayang, inilah kami mau berdamai lagi. Bukankah kita bersaudara, tidak boleh berselisih?”

Oetoesan Djawa Melihat-lihat Peroesahaan Asahi Sjinboen, Majalah Djawa Baru, 1 Nov 1943, hal 6. https://gapura.org/majalah/chapter_majalah/2/3#page-6.

Marilah teman kita pergi ke sebelah kanan, sebab sebelah kiri mereka penuh melihat. Cobalah lihat ikan apa pula itu, ganjil dari yang lain. Tidak salah lagi, ikan Gemih. Badannya tajam, runcing, ekornya ke bawah sedang muncungnya ke atas, tidak bergerak-gerak dalam air yang tenang. Semua ikan memang takjub akan sifatnya yang ganjil itu. Tidaklah heran, jika si Buntal Barit, ikan yang tolol dan bodoh itu, menggelengkan kepala yang besar dan dogol itu, serta dengan penuh keheranan melihat kelakuan Pengelamun Gemih itu. Sambil mencium-ciuminya, ia berkata, “Hai teman, mengapakah engkau seganjil ini hidupmu? Berfilsafat saja kawanku ini”. Tetapi ikan Gemih tiada menyawab kata temannya yang datang mengganggunya itu. Baginya cukuplah jika mengelakkan diri sedikit dengan tidak memperdulikan kata-kata yang didengarnya dari temannya itu.

“Hai, hai, jangan berkelahi”, seru ikan Bandeng sambil melaju saja, gagah dan sigap dari ikan semua. Badan yang muda belia itu berkilat-kilat sisiknya kena cahaya matahari, seperti berlian bertemu sinar, hijau kekuning-kuningan. Melancar di sini, melaju ke sana. Ha, lihatlah, sekarang di sini ia, sekejap mata lagi ia ada di sana pula. Kelakuan yang gelisah itu pada Penyu tidak disetujuinya. Dikedip-kedipkannya matanya sambil merangkak perlahan-lahan, lalu berdiri pula dengan anggota yang berkerut-kerut seperti nenek gaek.

Mulutnya bergerak-gerak seraya mengomel menggeleng-gelengkan kepalanya ke kiri ke kanan melihat ikan Bandeng yang selalu gembira itu. Kerjanya mengomel itu menakutkan ikan kecil-kecil berkelilingnya.

Teman, selangkah sebelah sana lagi, kita bertemu dengan Kepiting Merah yang hidup bersama-sama dengan Udang Besar yang hitam. Kedua binatang ini berselisih saja sepanjang hari. Tidak harga menghargai. Tingkah si Kepiting teman, perhatikan sebentar. Jalannya selalu miring-miring seakan-akan ngibing mencubit punggung-punggung teman setetangganya, yaitu Udang, dengan sepitnya yang dapat dibentang dan dilipatnya kembali. Selalu Udang berangsur mengelak diri sedikit dengan kesabaran, meskipun ia tidak dapat membalas apa-apa. Miring-miring jalannya Kepiting, satu per satu langkahnya, dicubitnya lagi punggung Udang. Tetapi seberapa kali disakiti hati Udang itu, sekian kali pula binatang yang sabar itu meng-angkat tangannya ke atas sambil meminta kepada yang Esa: “Ya, Tuhan, berilah petunjuk kepada Kepiting itu supaya jangan lagi ia sekejam ini. Untuk perdamaian dunia tetapkanlah imanku terhadap gangguan Kepiting jahanam.” Lihatlah teman, tidak sekali pun juga Udang Hitam yang penuh kesedihan itu berhenti dari berdo’a. Tiada sekejap tangannya diturunkannya ke bawah, malah tiap-tiap datang gangguan Kepiting, semakin tinggi dan rapat tangannya disusunnya menengadah ke langit, mohon perlindungan.

Rasanya telah puaslah kami melihat di sini. Marilah turun ke bawah akan melihat makhluk yang dipohon-pohon kaju pula.

Di sini agak lepas dan luas pandangan kita. Pohon-pohon yang rimbun daunnya menyejukkan hati tiap-tiap yang ada di bawahnya. Di atas, burung-burung bernyanyi girang, bersiul-siul dengan ragamnya. Akh, alangkah senangnya burung-burung itu bernyanyi, mengibarkan sayapnya dan ekor yang permai itu. Dalam ragam siulnya, iri hati kita hendak mengartikan siul dan nyanyi binatang itu.

Tuhan, aku ingin sebebas burung, sepintar itu menyanyikan lagu hati, tapi teman, marilah kita ke sana melihat yang ada dalam kurungan kawat itu. Bunyi yang menyeramkan, menarik kita menyaksikan ke sana. Teman, di dekat pintu pagar antara kurungan yang satu ke kurungan yang lain, terbelingkung bangkai burung Bangau Putih kecil, kurus merana. Nasib yang malang itu disudahi oleh mati. Mati ialah tempat yang damai bagi nasib yang malang ini. Di sebelah binatang ini tegak sigap burung Gagak Hitam. Muncung yang kuning kuat itu mematuk beberapa kali leher bu-rung Bangau yang terselat di antara lubang pintu kawat itu. Setiap ia telah mematuk merobek bangkai binatang ini, dengan mata hitam tajam bengis itu dilingkari merah memandang ke langit jernih dengan penuh kemenangan berteriaklah ia.

Dapatkah teman artikan bunyinya itu?

Kemenangan, sekali lagi, kemenangan yang mengatasi segala-galanya. Membunuh, memakan dan kemenangan atas yang tiada berdaya. Di pojok tidak jauh dari kejadian ini, di sarang yang setengah tua, duduk terpekur dua sejoli burung kecil menggerumuk tersuruk penuh ketakutan. Dekat benar mereka berdampingan, sehingga bisikan burung betina tak dapat didengar oleh yang lain. Sebentar-sebentar ia melihat ke bawah ke arah bunyi itu. Kemudian dipejamkannya matanya, tak kuasa ia berbisik lagi.

Sekarang kita keluar dari pekarangan aquarium.

Panas hari membakar kepala.

Dengarkanlah suara ramai-ramai. Mereka di sana penuh sesak, angkat-mengangkat, timbang-menimbang. Apa itu, teman? Ke Pelelangan ikan.

Marilah kita ke sana. Apa pula yang diperbuat mereka itu di situ? Bertimbun-timbun ikan mati, kecil besar, yang di selai udang terunggun-unggun di lantai dikerumuni orang banyak. Tidak lama lagi terdengar suara yang duduk di kursi itu nyaring mengatasi yang lain, sambil menunjuk ke unggun itu, “Sepuluh rupiah. Satu kali, dua kali …… Sebelas rupiah. Satu kali dua kali …..” dan seterusnya. Harga yang makin lama makin tinggi itu, disambut dengan “Ya”, berebut-rebut …..

Ikan, engkau ditimbang-timbang, engkau dipilih-pilih. Penghargaan mereka hanya pada beratmu saja. Tubuhmu dipurukkan dalam es agar hargamu jangan merosot.

Ikan, tadi kamu menimbang-nimbang badanmu di air jernih.

Sekarang ….. engkau, temanku, ditimbang-timbang dalam daun neraca yang berat itu.

Akh, temanku ikan, disamping kegembiraan dan kegirangan tak luput oleh kesedihan dan kemalangan.

1942

Pembangoenan Th. I No. 6, 7, 8, 25 Maret 1946


Pengarang: Dilahirkan di Bengkulu tahun 1921. Pendidikan: Sekolah Menengah Atas. Karangan-karangan bercorak simbolik. Sumber: Gema Tanah Air: Prosa Dan Puisi. 1948. Dikumpulkan dan dengan kata pendahuluan oleh H B Jassin, Cetakan Keempat, Djakarta, Dinas Penerbitan Balai Pustaka, 1959, hal. 35-38. Sumber foto: Kura-kura ocean park memiliki berbagai koleksi hewan laut yang bisa dilihat dari dekat. Foto: gmaps/Ernina Martiningrum https://travelspromo.com/htm-wisata/pantai-kartini-jepara/.

Daftar Pustaka

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Trending

Discover more with Stories From Indonesia

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue Reading