Ke Mana?
Cerita Pendek Karya Pramoedya Ananta Toer (1946)
Mendung hitam menebal. Hujan mulai melebat kembali. Kadang-kadang saja guntur mengelegar diikuti oleh kilatnya yang cuaca. Bulan November 1946…
Ia masih tetap duduk juga, di kursi malas, di pendapa, menghadap keluar. Badannya tidak bergerak. Cuma kaki kanannya sebentar-sebentar mengetuk-ngetuk lantai dengan sandalnya seperti orang yang tengah memberi mat pada sebuah lagu. Matanya memandang keluar, pada air yang turun dahulu-mendahului rupanya, akhirnya berkumpul dalam pertiwi. Tetapi semua itu tidak dilihatnya.
Hari baru pukul lima sore. Satu jam lagi, dan matahari akan terbenam. Satu jam lagi. Untuk apa waktu yang enam puluh menit itu? Ia tidak memikirkan waktu. Ia tetap duduk seperti itu juga. Sekali-kali tak teringat olehnya akan lalu dari situ. Segan ia berjalan. Segan! Kaki kirinya telah dikuburkan untuk… kemerdekaan. Tak beda dengan pemuda lainnya, iapun pernah turut bertempur di front… di Jawa Barat.
Angannya melayang, menembusi mendung dan hujan, mengikuti pengalamannya yang lampau. Ia mengerang. Ah, sudah setahun lamannya. Tidak, belum setahun, baru sembilan bulan! Waktu itu dinginnya bukan main. Jam tiga menjelang subuh, bulan Pebruari! Hujan turun dengan lebatnya. Ia memimpin satu regu perajurit bagian pasukan jalan dan berkewajiban mempertahankan jalan simpang-tiga, pos-pengintai yang terdepan.
Ia mengerang pula. Hehh, jam tiga, tidak salah, persis pada waktu itu dengan mendadak tampak olehnya barisan tank masuk. Dahsat-menghebat rupanya kena cahaya kilat yang sabung-menyabung. Belum lagi sempat melaporkan gerakan musuh itu kepada induk Tentara, tembakan mitraliur dari atas tank mulai berentetan tak henti-hentinya. Regunya kocar-kacir menyelinap ke dalam semak-semak di pinggir jalan. Cuma dengan susah payah ia bisa mengumpulkan perajuritnya. Seorang dikirimkan kepada induk Tentara untuk memberitahukan peristiwa ini. Empat tank raksasa dengan diikuti oleh lebih-kurang dua ratus pasukan jalan. Barisannya sendiri hanyalah satu regu kurang seorang dengan persenyataan enam karabin beserta seratus delapan puluh peluru dan tekidanto (pelempar granat)* sebuah dengan empat granatnya. Bisakah regunya melawan musuh demikian besarnya? Dalam keadaan yang sulit itu pikirannya masih bisa dipergunakannya untuk menyusun tenaga. Perajurit Sukanto diperintahkan mundur sampai lima ratus meter dan menempatkan tekidanto di tempat yang kelindungan belukar. Kopral Manan tetap di situ dengan sepuluh perajuritnya.
Manan mengatupkan matanya. Cuping hidungnya bergerak. Ja, seakan-akan bau itu tak hilang-hilang hingga kini, darah perajurit Surip yang berleleran menyirami tubuhnya. Ah, perajuritnya sudah seorang tewas. Hatinya jadi panas. “Tembak!” perintahnya. Enam pucuk karabin berjedar menyambar jiwa lima orang pasukan jalan musuh. “Pindah tempat, tembak, pindah, tembak…!” Entah berapa musuhnya yang tewas ia tidak tahu. Sementara itu perajurit Sukanto dengan tekidantonya berhasil mengocar-ngacirkan barisan musuh yang paling belakang. Seperempat jam regunya tak menembak lagi, sebaliknya peluru musuh merupakan tembok yang mengurung pertahanan kecil itu. Untung juga hujan bertambah lebat. Peluru musuh yang seperti kunang-kunang beterbangan tak sebuahpun yang mengenainya. Satu dua jatuh di depannya. Tuhan masih melindungi. Namun regunya harus mundur. Kalau tidak tentu hancur juga jadinya. Tembakan musuh tak juga mau berhenti.
“Teng…!” jam setengah enam. Ia belum bergerak juga. Masih ngeri hatinya mengingat waktu itu. Baru saja regunya hendak mundur, mortirpun berebutan bergegar mengepung mereka. Tidak bisa bergerak. Baru waktu itulah ia menucurkan air mata. Marah, kesal, karena peluru telah habis, tak bisa melawan dan membela diri. Sebuah peluru mortir meledak lima meter di belakangnya. Aduh, perih-sakit rasa tumit kanannya. Badannya jadi panas, hatinya berdebaran, mendesing-desing rasa detik darah di kupingnya. Apa yang telah terjadi? Tumit kanannya dirabanya, telah hantjur bersama sepatu. Hampir tidak percaya. Ia meneluh. Kemarahannya bergumul dengan kesakitannya. Anak buahnya tidak ada yang bersuara lagi, seolah-olah telah diselimuti oleh malakulmaut. Di mana mereka ? Ia tidak tahu. Kemarahannya dan kesakitannya akhirnya tertimbun oleh kelemahannya. Hujan bertambah lebat. Barangkali sebentar lagi musuh mengadakan pembersihan, dan sampailah ia pada akhir riwayatnya. Separoh dari badannya yang ditelentangkan itu, sudah mulai terbenam dalam lumpur. Awan mulai menyelimuti otaknya, kian lama kian tebal… Waktu ia membukakan matanya, hari telah pukul tujuh pagi; ia dalam dukungan Taryana, anak Mandor di daerah front itu.
Taryana! Ia masih ingat padanya. Anak yang baik budi. Kerap ia disuguhi kopi olehnya. Tak kenal waktu, bila Tentera berkunjung, tentu ada-ada saja yang dijamukannya. Ubi rebus, juadah ketan, kacang goreng dan lain-lain. Dan waktu ia terlantar, iapun menunjukkan jasanya sekali lagi. Dengan segala kekuatan yang dikerahkannya, didukungnya Kopral Manan ke rumah Mandor tua, bapaknya, melalui semak-semak dan belukar serta jalan setapak yang sangat licin oleh lebatnya hujan. Kalau Taryana hari itu tidak pergi untuk menengok sawahnya, ya apakah yang akan terjadi atas dirinya? Ia tidak tahu. Kopral Manan tak sadarkan diri lagi. Waktu matanya dibuka lagi, tahu-tahu ia sudah terlentang dibalai-balai Palang Merah Tentera Sub Sektor-I. Sersan Suminto, Sersan Palang Merah memandanginya. Ah, kawan sekolahnya dahulu di SMP. Cuma berpandang-pandangan saja. Tak kuasa mulut mengalirkan perasaan masing-masing. Tetapi itu belum mengharukan bagi hati Sersan Suminto, melihat kawannya sekelas dalam keadaan sakit. Baru tatkala Kopral Manan mengetahui bahwa kaki kanannya telah dipotong, sahabatnya itu menangis tersedu-sedu. Dokter Tentera berkata, bahwa kurbannya itu adalah untuk kemuliaan tanah-airnya. Matanya dikatupkannya, tampak tasik cita-citanya terbakar, terbakar, seperti kota Roma dibakar oleh Nero…
Jam berbunyi enam kali. Hujan tinggal rintik-rintik saja. Manan terpekur. Ia tidak mau lagi mengingat riwayat yang sudah lampau dan menyedihkan itu.
“Kak…” seru adiknya perempuan dari dalam rumah. “Kak Manan! Makan sudah sedia. Makanlah!”
Manan berdiam diri. Suara panggilan adiknya cuma terlintas saja di kupingnya. Matanya tetap memandang air yang harmpir diselimuti kegelapan senya, bercucuran ketepian dengan sorak-sorainya.
“Kak Manan,” seru adiknya selaki lagi, seraya keluar ke pendapa mendekati kakaknya. Dengan lemah lembut ditepuknya bahu kakaknya.
Manan terkejut melihat ke belakang. Oh, Sumarti, adiknya. Dua pasang mata bersabung. Mengapa mata Sumarti berlinang-linang? Sedih melihat nasib kakaknya? Ataukah terkenang olehnya akan Ramli, kadet penerbangan, harapan cita dan cintanya yang telah gugur sewaktu mengadakan penerbangan percobaan? Tidak, tidak, ia tidak mau mengetahui sebabnya. Tetapi akhirnya bertanya juga ia pada adiknya.
“Mengapa menangis, Marti?”
“Marti tidak menangis,” sahutnya, “makan sudah sedia, kak! Makanlah!” Kemudian pergilah ia cepat-cepat masuk ke dalam. Tetapi sebentar kemudian ia kembali pula. Matanya bersih kembali dan ditolongnya Manan mengenakan tongkat ketiaknya. Kakak beradik itu berjalan bersama-sama masuk ke ruang dalam.
Hujan telah reda. Manan masuk ke kamarnya. Gelisah hatinya. Gedung cita-citanya telah terbakar. Alangkah besar keinginannya dahulu akan menjadi orang besar, yang kuasa membangunkan pekerjaan yang besar-besar pula. Ia bercita-citakan jadi insinyur ahli bangun-bangunan. Kerap pula ia membayangkan mendirikan jembatan raksasa yang menghubungkan Madura dengan Surabaya, Bali dengan Banyuwangi. Baru saja ia tamat SMP, sekarang umurnya mendekati delapan belas. Bisakah ia mencapai idam-idamannya itu? Sering ia menerima surat dari kawannya sekelas dahulu, ada yang meneruskan sekolah ke SMT, ada pula ke SMTT, dan tidak kurang yang bekerja di kantor, memanggul senapan. Alangkah baiknya kalau ia bisa meneruskan sekolah. Tetapi harapannya untuk jadi ahli bangun-bangunan itu telan terbakar, hancur oleh peluru mortir Inggris. Mengapakah ia dahulu tidak gugur dalam pertempuran saja? Mengapa ia dipulangkan ke dekat saudaranya dengan tiada bertenaga lagi? Apakah yang harus dikerjakannya lagi?
Dengan tiada disadarinya diambilnya buku aljabar dari rak buku, dibolak-baliknya isinya, tetapi tak ada lagi nafsunya untuk mempelajarinya. Buku itu diletakkannya kembali. Diambilnya majalah-majalah bulanan. Dilihat-lihatnya gambarnya. Perdana Menteri Sutan Sjahrir tersenjum, Jenderal Sudirman disambut oleh rakjat di stasiun Manggarai, Wakil Presiden sedang memeriksa pabrik, Presiden sedang berteriak dalam pidato. Tetapi semua gambar itu tidak melipur hatinya, malah berbendal mengaca hatinya sendiri. Ke mana ia harus pergi?
“Ke mana? Ke mana saja harus pergi?” tanyanya dalam hati.
Sekali lagi dipandangnya gambar Presiden seraja mengulangi pertanyaannya: “Ke mana…?”
Tjikampek, 10 Des. 1946
Pantja Raja Th. II No. 5, 15 Djan. 1947
*tekidanto (Type 89 Grenade Discharger) – Senjata pelancar granat ringan atau mortar ringan yang digunakan secara luas oleh Angkatan Darat Kekaisaran Jepang selama Perang Dunia Kedua. Lihat https://www.chinaww2.com/2014/06/13/japanese-knee-mortar/, https://en.wikipedia.org/wiki/Type_89_grenade_discharger.
Pengarang: Dilahirkan 6 Februari 1925 di Blora. Pendidikan: S.R. Budi Utomo Blora; Radio Vakschool di Surabaya, kemudian Taman Dewasa Jakata. Waktu Jepang: pegawai Domei; permulaan revolusi: frontkorresponden resimen-6, divisi Siliwangi. Permulaan tahun 1947 jadi redaktur mingguan “Sadar”. Dan sebagai akibat pergolakan politik ditawan oleh Belanda dari Juli 1947 sampai Desember 1949. Di dalam penjara Bukitduri terlahir sebagian besar cerita-ceritanya. Tahun 1950 bekerja sebagai redaktur Balai Pustaka, berhenti Maret 1952 dan memulai usaha “Literary & Features Agency Duta” bulan Januari 1952.
Pengarang buku-buku: Krandji Bekasi Djatuh, 1947; Perburuan, BP 1950; Pertjikan Revolusi, kumpulan cerita-cerita pendek. Gapura 1950; Subuh 3 cerita pendek, antara lain “Blora”, Pembangunan 1950; Keluarga Gerilja, Pembangunan 1950; Dia jang menjerah, Pustaka Rakjat 1950, Ditepi Kali Bekasi, Gapura 1951; Bukan Pasarmalam, BP 1951; Mereka jang dilumpuhkan, djilid I dan Il, BP 1951; Tjerita dari Blora, BP 1952; Gulat di Djakarta, Duta Djakarta 1953; Korupsi, dalam madjalah Indonesia” No. 4 Th. V April 1954; Kemudian runtuhlah Madjapahit, belum terbit ; Tjalon Arang, belum terbit. Terjemahan-terjemahannya: “Tikus dan Manusia” (Of Mice and Men) oleh J. Steinbeck, Pembangunan 1950; “Kembali kepada Tjinta Kasihmu”, oleh Leo Tolstoi, BP 1950. Sumber: Gema Tanah Air: Prosa Dan Puisi. 1948. Dikumpulkan dan dengan kata pendahuluan oleh H B Jassin, Cetakan Keempat, Djakarta, Dinas Penerbitan Balai Pustaka, 1959, hal. 216-218.




Leave a Reply