Lonceng Berbunyi

Cerpen Karya Subardjo (1946)

Sunyi di dalam rumah…

Suwarni bernyanyi. Suaranya halus, tenang, mengurai kesunyian. Ia bernyanyi, seraya berjalan lambat-lambat. Nyanyian yang memancar dari dalam lubuk hatinya; berirama mesra seorang ibu. Lemah-lembut.

Suwarni sedang menidurkan anaknya. Suaranya menggenang di udara. Membelai-belai si kecil-nakal di dadanya. Sehingga tangan yang kecil montok itu tiada lagi bergerak-gerak, kakinya tak lagi meronta-ronta. Rianto berdiam diri. Hanya matanya mengedip-ngedip. Memandang wajah ibunya. Wajah yang senantiasa jernih-lembut pada pemandangannya itu.

Matanya mengecil, akhirnya lelap menutup. Rianto tertidur diliputi kasih-mesra ibunya.

Suwarni melihat kepada anaknya. Tak puasnya ia memandang tubuh yang kecil-montok-jenaka itu. Rambutnya lemas, kehitam-hitaman warnanya. Menghiasi kepalanya yang kecil, serta mukanya yang bagai boneka. Bibirnya yang kecil itu bertaut halus. Sedang kedua tangannya dan kedua kakinya sangat manis dan lucu bentuknya. Dapat ia riang tertawa-tergelak, jika melihat tangan dan kaki itu meronta-ronta ke atas, seraya mengoceh merdu…

Tubuh kecil itu tetap tenang, bernafas teratur. Dibelai pandangan mata ibunya. Halus menyerah dipangkuannya, seolah-olah tahu sungguh ia, bahwa ia belahan nyawa ibunya, diperlindungi serta dipelihara dengan kasih cinta yang tak bertara.

Perlahan-lahan dengan penuh mesra diciumnya Rianto, anaknya yang pertama itu!

Tuhan adil. Menciptakan manusia di haribaan wanita yang bersifat halus.

Lonceng berbunyi. Suaranya jernih, dalam ketenangan. Hati ibu remaja itu tersinggung, fikirannya tergerak. Ia teringat akan suaminya. Sebulan lebih sudah suaminya pergi memenuhi panggilan Ibu Pertiwi. Memenuhi kewajibannya terhadap Tanah-Air. Tetapi hingga kini belum kembali. Sedang teman-teman seperjuangannya ‘lah pulang semuanya. Suaminya tak kembali. la tertawan oleh musuh; demikian keterangan kawan-kawannya.

Suwarni mendekati lonceng. Pukul setengah empat. Suara lonceng Westminster itu senantiasa membangkitkan kenang-kenangan padanya.

Terutama pada waktu dukacita sedang meliputi hatinya. Kini pun, bagai gambar hidup, kenang-kenangan hari yang lampau melintas dalam angan-angannya. Pertama-tama teringat olehnya waktu ia masih kecil. Orang tuanya bertempat-tinggal di sebuah onderneming, karena ayahnya bekerja di situ. Kerap kali ia mengikuti ayahnya ke kebun karet. Girang hatinya bukan kepalang. Dengan sesuka hati, ia bermain-main. Mencari buah karet yang banyak di bawah pohon, di antara daun-daun kering. Ia berlomba-lomba dengan anak-ank kampung siapa yang terbanyak pendapatannya. Boleh dikata ia senantiasa menang. Karena tangannya cekatan dan matanya awas.

Suasana di onderneming dingin, sunyi dan tenang. Tetapi waktu itu merasa berbahagia karena diliputi kasih-sayang orang tuanya. Melekat betul kesunyian itu dalam hatinya hingga kini, sebagai suatu kegemaran. Umur enam tahun ia pergi ke sekolah desa. Teringat jelas, bagaimana ia tiap-tiap pagi berjalan melalui rumah tuan besar onderneming. Hampar tiap-tiap kali ia lalu, terdengar dari dalam melalui jendela, suara jam Westminster yang sangat menarik harinya itu. Jernih, tenang, riang… memecah kesunyian hutan karet.

Suatu hari, ibunya jatuh sakit. Makin lama makin sangat. Berhari-hari ia duduk di dekat ibunya. Teringat olehnya, pada suatu saat, tampak air-mata meleleh melalui pipi ibunya, seraya melihat kepadanya. Iapun menangis karena cemas.

Ibunya bersalin. Tetapi adiknya yang baru lahir itu tak tertolong. Dan ibunya pun meninggalkannya… untuk selama-lamanya. Hari itu, waktu ia dibimbing ayahnya pergi ke kubur, berjalan melalui rumah besar itu, terdengar pula melalui jendela, bunyi lonceng; keruh, kelam, suram…

Sesudah kematian ibunya, berubahlah penghidupannya. Kata-kata yang pedas kerap kali menusuk telinganya. Tangan seringkali melekat-kejam di kepalanya. Dan karena takut kepada ibu tirinya, kadang-kadang sehari-harian ia berkeliaran di kebun karet. Pendidikannya menjadi kalut!

Mujur. Saudara ibunya yang bertempat tinggal di sebuah kota datang. Dimintanya kepada ayahnya supaya ia disekolahkan di kota. Ayahnya setuju. Ia pun mau, meskipun berat rasanya meninggalkan kesunyian di onderneming, untuk ditukar dengan keramaian di kota. Di sana ia merasakan penghidupan yang baru. Mamaknya suami-isteri menganggapnya sebagai anak sendiri, yang dicintai dengan sepenuh hati. Barangkali karena ia merupakan kenang-kenangan kepada saudaranya yang perempuan yang telah meninggal. Karena pemeliharaan yang baik itu, maka segera hilanglah kesedihan yang disebabkan perpisahan dengan ayahnya serta dengan ibunya yang telah tak ada itu.

Di rumah orang-tua angkatnya itu ada sebuah lonceng Westminster pula. Suaranya tak ubahnya sebagai yang telah didengarnya di onderneming dulu. Suara itulah yang membangkitkan ingatannya kepada ibunya, seolah-olah memanggil-manggil dari dalam kebun karet yang sunyi, tenang… Karena dapat menimbulkan ingatan kepada ibunya, maka ia gemar mendengarkan suara itu. Tengah ia menyapu, atau sedang makan, atau pun lagi asyik belajar, ia berhenti sebentar, jika lonceng itu berbunyi. Bunyinya yang jernih, tenang, memanggil-manggil dari tempat sunyi…

Setelah ia tamat dari sekolah rendah, masuklah ia ke sekolah menengah. Di situ ia berkenalan dengan Sutanto, yang telah duduk di kelas tiga. Sutanto, pemuda yang senantiasa riang dan gembira, nakal tak terperikan, tetapi baik hati itu. Teringat pula oleh Suwarni akan pergaulannya dengan Sutanto. Untuk berkelakar pemuda tersebut mengenalkan diri kepadanya. Tetapi ia tak membalas senda-gurau itu, ia tetap tenang dan diam, menurut sifatnya, meskipun ia merasa tertarik akan keriangan Sutanto. Setelah itu Tanto tak mau lagi mengganggunya dan sénantiasa baik kepadanya, menanyakan apa-apa yang masih sukar untuknya di sekolah. Aljabarlah yang senantiasa memberi kesukaran kepadanya. Dengan jelas diterangkan oleh Sutanto, apa-apa yang belum dia mengerti. Sekali belum mengerti, diterangkannya sekali lagi… kemudian sekali lagi. Entah sudah untuk keberapa kalinya diulanginya, dengan kesabaran yang belum pernah dialami pemuda yang riang dan nakal itu.

Suwarni tersenyum, mengenang itu. Sutanto yang liar itu telah tunduk kepadanya. Kenakalan pemuda itu berangsur-angsur hilang, tenggelam dalam sifatnya yang tenang dan diam, dipengaruhi sifat gadis yang dicintainya.

Sejak itu, bunyi lonceng makin suram jua membawa kenang-kenangan ibunya kepadanya. Sebaliknya, suara itu makin jelas menggambarkan masa gilang-gemilang yang akan datang baginya.

Kini setahun setengah sudah lalu, sejak ia menjadi nyonya Sutanto. Waktu itu sungguh sangat gilang-gemilang baginya. Jalan penghidupannya melalui sebuah taman yang penuh bunga berkembangan, dan bau-bauan yang semerbak wangi. Dan pada suatu saat terpancarlah sebuah cahaya kilau-kemilau, menambah keindahan jalan yang dilaluinya. Anaknya yang pertama lahir. Merupakan rantai emas, yang mengeratkan ikatan suami-isteri itu, dalam menempuh lautan hidup.

Lonceng berbunyi; jernih, dalam, penuh kenang-kenangan. Suwarni melihat anaknya. Rianto tidur, tenang. Penaka sekuntum bunga mawar yang masih kuncup, halus kemerah-merahan.

“Ikhlas aku melepaskan engkau pergi berjuang kanda, untuk kebanggaan Rianto, tuangan jiwa kita berdua,” demikian bisiknya. Lambat-lambat ia menuju ke tempat-tidur, dibaringkannya anaknya perlahan-lahan. Lalu ia duduk di dekatnya. Sunyi…

Pantja Raja Th. 1 No. 14, 1 Juni 1946


Pengarang: Subardjo lahir pada tanggal 16 April 1925 di Djakarta. Pendidikan awalnya dimulai di Electro Technische School Djakarta, di mana ia mengasah keterampilan teknisnya, dan kemudian melanjutkan ke Sekolah Pertanian Menengah di Ungaran, Semarang. Karirnya dimulai di sektor transportasi di perusahaan kereta api, sebelum beralih ke bidang pertanian di perkebunan di Purwakarta. Ia kemudian bergabung dengan Koperasi Ikatan Pertukangan Sepatu Indonesia (IPSI) sebagai bentuk kontribusinya terhadap perkembangan industri lokal. Selama masa revolusi, Subardjo mengambil peran sebagai anggota tentara, khususnya di bagain Penerangan Tentara Divisi II, di mana ia menjabat sebagai letnan-muda. Sumber: Gema Tanah Air: Prosa Dan Puisi. 1948. Dikumpulkan dan dengan kata pendahuluan oleh H B Jassin, Cetakan Keempat, Djakarta, Dinas Penerbitan Balai Pustaka, 1959, hal. 157–160.

Lonceng Berbunyi (1946) | Subardjo Membacakan Cerpen Jun 27, 2020

pantja-raja

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Trending

Discover more with Stories From Indonesia

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue Reading