Tembok Kaca

Cerpen Karya Mochtar Lubis (1950)

Lakinya memanggil becak. Jarang benar sebenarnya mereka naik becak ke mana-mana. Biasanya mereka berjalan kaki, dan baru kalau terlalu jauh benar mereka naik tram. Tetapi sekali ini Dulah merasa mereka harus naik becak. Karena hari istimewa. Hari ini mereka berdua, Dulah dan isterinya, pergi membeli-beli untuk isterinya. Dulah bekerja sebagai opas di sebuah kantor, dan ketika hampir Tahun Baru dia mendapat persenan yang lumayan juga. Mereka duduk di becak, rapat-rapat seperti orang yang baru kawin. Sebentar-sebentar tangan Dulah memegang ampelop berisi uang dalam saku bajunya. Enam puluh lima rupiah.

Dulah memijit pergelangan tangan isterinya. Dengan rasa hatinya yang amat sederhana itu Dulah amat cinta kepada isterinya. “Nanti adik pilihlah mana yang suka,” katanya.

Isterinya mencubit pahanya dan dengan tertawa berkata ia hendak memilih kalung, baju kebaya dari sutera, sisir yang merah warnanya, jepitan rambut berwarna-warna, sebuah selendang, kain panjang, selop baru. Dan Dulah tertawa dan berkata bahwa tidak cukup uang untuk membeli semuanya, tetapi isterinya boleh menghabiskan semua uang itu, dan mereka berdua tertawa. Ketika becak berhenti di depan toko-toko, mereka turun, dan Dulah memberi tukang becak uang setengah rupiah.

“Masa cuma setengah perak!” berungut tukang becak.

Dulah menambah setalen lagi.

“Kurang dong. Kan jauh! Seperak aje!” kata tukang becak mendesak. Biasanya tidak mau dia membayar lebih lagi, dan lebih suka dia dimaki-maki tukang becak dari pada membayar terlalu mahal, tetapi hari ini Dulah tidak suka bahagia mereka diganggu dengan pertengkaran dengan tukang becak, dan ditambahnya setalen lagi.

“Mari kita lihat-lihat dahulu,” kata isterinya.

Dan mereka pergi melihat-lihat barang-barang yang dipertontonkan di belakang kaca toko-toko itu, berpindah-pindah dari sebuah toko ke toko yang lain. Sekali-sekali jika isterinya melihat sesuatu yang menarik hatinya, mereka berhenti dan berdiri dekat-dekat ke kaca toko, merapatkan muka ke kaca hingga ujung hidung mereka tertekan ke kaca. Setiap mereka berbuat demikian, Dulah selalu mendapat bayangan yang aneh-aneh melintas ke dalam kepalanya, dan kemudian menghilang kembali. Datang kembali, menghilang kembali. Apalagi jika isterinya berkata, “Nah, kemeja itu ‘kak. Bagus benar untuk kakak. Lihat itu sepatu tuan!” Dan matanya melihat dasi, sepatu, jas, kemeja, pantalon dan topi — mengingatkannya kepada tuannya di kantor yang datang dan pergi dengan mobil besar, memakai dasi, sepatu, jas, kemeja, pantalon dan topi yang dilihatnya di belakang kaca toko itu. Dan ke dalam pikirannya terbayang gedong besar, kapal terbang, kapal api, dunia lain, dunia yang berkilau-kilauan penuh kesenangan dan kemewahan yang tidak pernah dikecapnya. Beberapa kali ia hanyut jauh-jauh dibawa pikiran-pikiran demikian, hingga isterinya menarik tangannya dan berkata, “Ayoh, ‘kak. Kita terus.” Dan Dulah berpaling dan melihat berkeliling, dan kemudian ia memandang kepada barang-barang di belakang kaca toko itu. Kaca, kaca itu selamanya antara dia dengan barang-barang itu. Barang-barang dari dunia lain itu. Dapat dilihatnya, tetapi tidak dapat dipegangnya. Mereka berjalan terus.

Kemudian Dulah tersenyum. Tetapi sekali ini mereka akan masuk dan dia akan dapat membelikan barang-barang di belakang kaca itu untuk isterinya. Dia ingat kepada uangnya, dan dengan cepat dimasukkannya tangannya ke dalam saku bajunya. Lega hatinya, karena amplop uang itu masih ada.

Kemudian isterinya menarik dia masuk ke dalam sebuah toko. Lama juga baru mereka diladeni oleh penjual dalam toko itu, dan orang itu tidak sehormat kepada orang-orang lain kepada mereka.Tetapi Dulah dan isterinya tidak merasakan perbedaan itu.

“Beli apa?” kata penjual itu.

Isteri Dulah menunjukkan.

“Tiga puluh rupiah, satu meter.”

“Satu kebaya berapa?” tanya isteri Dulah.

“Lima puluh rupiah.”

Isteri Dulah melihat dengan kaget kepada suaminya. Pucat juga muka Dulah mendengar harga itu.

“Kita lihat di tempat lain dahulu, ‘kak,” kata isterinya.

Dulah mengangguk dan mereka keluar. Tetapi di tempat lain demikian juga harganya. Masuk toko, hingga Dulah sudah lupa berapa toko yang telah mereka coba, selamanya lima puluh rupiah, empat puluh lima rupiah, enam puluh rupiah.

Dan akhirnya isteri Dulah berkata, “Mahal-mahal di dalam. Lebih baik kita beli di luar saja, ‘kak.” Dan akhirnya mereka dapat membeli sebuah kebaya dengan harga dua puluh rupiah, sebuah selendang sepuluh rupiah, sebuah kain panjang dua puluh lima rupiah.

“Tinggal sepuluh rupiah lagi,” kata Dulah.

“Sudahlah, ‘kak. Mari kita pulang,” kata isterinya. Dulah memanggil becak. Isterinya naik. Dan ketika dia hendak duduk, tiba-tiba dia berdiri, dan berkata kepada isterinya, “Tunggulah sebentar.” Dan cepat-cepat dia melangkah ke dalam toko.

Sebentar kemudian dia keluar dengan tersenyum-senyum, membawa sebuah bungkusan kecil.

Dia duduk di becak di sebelah isterinya, dan diberikannya bungkusan kecil itu kepada isterinya. Isterinya membuka bungkusan itu…… Enam buah jepitan rambut berwarna-warna. Merah, kuning, putih, hijau.

“Seringgit,” kata Dulah.

Aduh bagusnya, ‘kak,” kata isterinya. “Untung kakak ingat.”

Dulah tertawa dan memeluk bahu isterinya. Hanya tidak dikatakannya mengapa sebenarnya tiba-tiba ia pergi membelikan jepitan rambut yang dilihatnya terletak di belakang kaca toko itu. Karena dengan berbuat demikian Dulah merasa telah berhasil menembus tembok kaca yang memisahkannya dari barang-barang yang di belakang kaca itu; barang-barang yang mengingatkannya kepada dunia lain yang dengan tidak terasa olehnya dirindukannya.

“Biar jepitan rambut dahulu..…,” pikir Dulah.


Sumber: Tembok Kaca (Wall of Glass) adalah sebuah cerita pendek dari kumpulan cerita pendek karya Mochtar Lubis, Si Djamal : dan tjerita2 lain / oleh Mochtar Lubis, Gapura, Djakarta, 1950, h. 80.

Featured image credit: The shopfront of Au Bon Marché on Rijswijkstraat 20 (now Jalan Majapahit) in 1936, Photo Credit: Blog post, Jalan Majapahit 1936, by Sven Verbeek Wolthuys, January 13 2023, LostJakarta.com, https://lostjakarta.com/2023/01/13/jalan-majapahit-1936/.

Winkels aan de Rijswijkstraat te Batavia
Toko-toko di Rijswijkstraat (Jalan Majapahit) di Batavia, 1935 http://hdl.handle.net/1887.1/item:840088

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Trending

Discover more with Stories From Indonesia

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue Reading