Si Djamal Perentjana
A Short Story by Mochtar Lubis (1950)
Telah beberapa bulan aku tidak bertemu dengan dia. Penghabisan sekali aku bertemu dengan dia, ialah waktu aku pergi ke Jogjakarta dan membawakan beberapa buah buku untuknya. Karena itu, girang juga aku melihatnya tiba-tiba masuk dari pintu depan dan berseru “Merdeka, bung!” dan terus menjabat tanganku sebelum aku sempat berdiri dari kursi. Ia meletakkan sebuah tas kulit yang tebal dan berat kelihatannya di atas meja dan berkata:
“Berilah aku segelas air dingin. Panas benar udara Djakarta ini.”
Aku pergi kebelakang mengambilkan air segelas untuknya, dan diminumnya sekali teguk habis, “Apabila engkau datang?” tanyaku.
„Dengan kereta api istimewa delegasi,” jawabnya, dan matanya bercahaya-cahaya, seakan-akan datang dengan kereta api istimewa delegasi itu adalah suatu hal yang luar biasa sekali.
„Engkau anggota delegasi sekarang?” tanyaku.
„Tidak,” katanya.
„Bagaimana engkau bisa ikut?” tanyaku.
Dia tersenyum penuh rahasia, dan memasukkan tangannya ke dalam saku dalam jasnya, dan dikeluarkannya sebuah dompet yang besar dan tebal. Dari dompet itu dikeluarkannya sebuah kartu.
„Kartu putih KTN,” katanya dengan tersenyum, dan diberikannya kepadaku.
Kartu putih KTN itu dalam tiga bahasa. Bahasa Indonesianya berbunyi:
Negara-negara Sekutu
Panitia Penawar Jasa-Jasa baik dari Dewan
Keamanan terhadap soal-soal Indonesia.
Kepada Tuan;
(disini diisi dengan tinta)
Djamal, wartawan freelance
dan dicap dan ditanda-tangani.
“Dengan kartu ini,” kata si Djamal, sambil menggoyang-goyang kartu itu didepan hidungku, “aku sekarang dapat mundar-mandir dari Jogja ke Djakarta.”
“Sejak kapan engkau jadi wartawan freelance?” tanyaku. “Tidakkah engkau menjadi anggota Brains Trust lagi?”
“Masih,” katanya, “tetapi aku sekali-sekali menulis juga untuk majalah-majalah di pedalaman itu.”
Kemudian, seakan-akan takut ada orang yang mendengarkan, dia merendahkan tekanan suaranya, dan berkata kepadaku:
“Aku sebenarnya hendak minta tolong kepadamu. Engkau selama ini terus di Djakarta, dan mudah berhubungan dengan luar negeri. Kami minta engkau mau mewakilkan kami di sini, untuk mengurus kontak dan korespondensi dengan luar negeri. Ongkos-ongkos kami yang menanggung,” katanya.
“Siapa kami itu?” tanyaku.
Dia tidak memperdulikan pertanyaanku, tetapi berkata terus:
“Ini kami mempunyai tiga rencana. Aku yang membikinnya,” dan dia membuka tas kulit yang besar dan berat itu, dan mengeluarkan sebuah map.
“Ini rencana ekonomi,” katanya, dan diperlihatkan sebuah kertas yang bergaris-garis dan angka-angka, dan ditulis dalam kotak-kotak kata-kata “pusat produksi”, “pusat distribusi”, “pusat pengawasan”, “dewan penimbang”, “dewan penetapan harga”, perdagangan luar negeri”, “dewan pengawas deviezen”, dan sebagainya, tidak aku ingat lagi semuanya.
Kita dapat menyediakan gula, tembakau, vanille, dll. Di pelabuhan Tuban, dan kemudian juga lada putih dan sebagainya di pelabuhan-pelabuhan di Sumatera,” kata si Djamal. “Semuanya telah selesai disiapkan. Hanya tinggal menjalankannya saja lagi. Sebahagian kita tukar dan sebahagian kita minta dibayar dengan uang dollar yang disimpan di luar negeri. Karena dari Jogja sukar sekali perhubungan keluar, maka kami minta engkau suka menjadi wakil kami di sini untuk mengurus korespondensi yang bersangkutan dengan pekerdjaan ini.”
Dan dengan tidak menunggu jawabku, apakah aku suka atau tidak, dia mengeluarkan sebuah map lagi dari dalam tasnya.
“Ini rencana kedua,” katanya. “Tetapi baru dapat dijalankan jika rencana ekonomi yang pertama tadi telah berjalan lancar, dan uang telah masuk. Rencana ini mengenai penerangan di daerah pendudukan Belanda dan keluar negeri.”
“Bukankah sudah ada Kementerian Penerangan dan Kantor Berita Antara dan surat-surat kabar?” tanyaku.
Apa itu Penerangan dan Antara,” katanya. Tolol-tolol semua orang-orangnya. Nanti kita akan membeli percetakan dengan hasil rencana ekonomi ini, mengeluarkan surat-surat kabar dan majalah. Pendeknya, lain dari rencana-rencana orang-orang lain. Dan ini yang ketiga, katanya mengeluarkan sebuah map lagi. “Tetapi ini untuk penerangan di dalam daerah Republik. Bantuanmu perlu juga untuk mengirimkan kami buku-buku, dan alat-alat lain.”
Kemudian dari map rencana ekonomi tadi, dikeluarkannya sebuah daftar nama-nama toko dan firma-firma di Singapura, Manilla dan New York, daftar barang-barang yang katanya telah sedia dipelabuhan-pelabuhan, sekian ton gula, sekian ton vanille, sekian ton tembakau, dan sebagainya.
“Ini untuk engkau,” katanya. “Tentu engkau perlu ongkos-ongkos untuk korespondensi ini. Berapa kira-kira perlu?”
“Aku tidak tahu,” jawabku. “Dan sudahkah engkau berhubungan dengan kantor-kantor dagang yang ada di daftar ini?
“Belum. Engkaulah yang harus mengurusnya. Kita telah menyediakan sepuluh ton cerutu di Tuban untuk diangkat ke Djakarta. Dan secepatnya cerutu itu sampai ke mari, akan aku berikan engkau fonds. Lima ribu rupiah cukuplah untuk permulaan, pikirku,” katanya.
Girang djuga hatiku mendengar angka lima ribu itu. Mula-mula aku tidak percaya rencana-rencana si Djamal ini. Tetapi mendcngar ada perahu yang akan membawa cerutu ke Djakarta, timbul juga kepercayaanku.
“Apabila engkau pikir perahu itu akan sampai?” tanyaku.
“Aku datang kemari untuk mengurusnya,” jawab si Djamala. “Tentu sebelum aku pulang ke Jogja, telah sampai barangnya dan dapat aku tinggalkan uangnya padamu. Nah, beres sekarang?”
“Ya, kalau ada uangnya, tentu beres saja,” aku jawab.
Kemudian si Djamal berdiri dan memeriksa buku-buku dilemari buku. Sebentar kemudian dia menggelengkan kepalanya.
Engkau masih belum berubah juga,” katanya. “Buat apa engkau baca buku-buku ceritera roman, detektip, dan cowboy itu?”
Kemudian dia pergi, dan aku mulai merencana-rencana bagaimana mesti hidup jika bergaji 500 rupiah, 600 rupiah atau 700 rupiah sebulan. Hm!
Seminggu kemudian dia datang kembali ke rumah
“Aku mesti kembali ke Jogja besok,” katanya.
“Bagaimana uangnya?” tanyaku.
“Ah, beres. Hanya tinggal surat izin dari Departemen Economische Zaken. Rupanya masih belum keluar. Tetapi tidak usah khawatir. Ini aku tinggalkan surat untuk kawan yang mengurus itu, supaya jika barangnya telah sampai, kepadamu dibayarkan 5000 rupiah. Nah, selamat tinggal dahulu. Beri aku kabar nanti.”
Dia pergi. Aku lihat surat yang ditinggalkannya itu. Betul juga sebagai katanya.
Seminggu aku tunggu-tunggu tidak ada apa-apa. Dan kawan yang mengurus itu berkata terus lisensinya belum keluar juga. Beberapa hati kemudia, sepucuk surat dari si Djamal datang, mengatakan bahwa cerutu itu tidak jadi dikirimkan, karena harganya sudah jatuh di Djakarta, dan kalau diteruskan akan rugi. Tetapi, katanya dalam suratnya, kita sekarang telah sediakan 100 ton guia, dan semuanya juga telah beres, dan engkau akan dapat kami beri lebih banyak lagi, mungkin sepuluh ribu, hingga untuk beberapa bulan tidak usah pusing-pusing kepala perkara uang, dan tentu dalam beberapa hari lagi uang itu akan dapat engkau terima. Girang juga hatiku kembali.
Beberapa hari kemudian, si Djamal sendiri datang lagi ke Djakarta.
“Menumpang pesawat KTN,” katanya.
“Bagaimana gula?” tanyaku.
“Itulah yang hendak aku urus. Semuanya mesti aku sendiri, kalau tidak, tidak bisa beres. Gula itu sudah ada di kota Gombong di Jawa Tengah selatan. Semua sudah beres, hanya lisensi dari Departemen Economische Zaken saja yang belum keluar. Tetapi aku sudah ke sana tadi. Ada kawan yang bekerja di sana. Katanya besok atau lusa mesti keluar.
Tetapi ini aku ada sebuah rencana lagi, barangkali di sini ada kawan-kawan yang bisa mengerjakannya.”
“Apa?”
“Kita mesti mengeluarkan sebuah surat kabar dalam bahasa Ingeris di sini. Dan surat kabar itu kita kirim juga keluar negeri. Tentu laku. Orang luar kepingin betul mengetahui keadaaan Indonesia sekarang. Dan dengan ongkos-ongkos adpertensi dari firma-firma luar dan dalam negeri saja surat kabar itu telah bisa jalan sendiri. Cobalah pikirkan rencana ini dahulu,” katanya kemudian.
Sekali ini dia tidak memberi tahu kepadaku ketika dia kembali ke Jogja, dan menjawab suratku bagaimana dengan uang gula itu, dibalasnya, bahwa gula itu juga tidak jadi, karena, katanya, Belanda mau beli dengan harga yang ditetapkannya sendiri saja, tetapi dia sekatang sedang merencanakan untuk men-charter sebuah pesawat udara untuk membawa vanille dan bubuk kina keluar negeri — dan dengan uang dollar bukankah kita lebih banyak dapat berusaha, katanya dalam suratnya.
Tetapi hingga hari ini aku masih menunggu-nunggu uang dollarnya itu, dan dari seorang kawan, aku dengar si Djamal sedang menunggu-nunggu kesempatan terbang ke pulau Sumatera. Katanya dia hendak membikin rencana pertambangan raksasa di Sumatera.
Source: Si Djamal perencana (Young Jamal The Schemer) is a story from the short story collection of Lubis, Mochtar. Si Djamal : dan tjerita2 lain / oleh Mochtar Lubis Gapura Djakarta 1950, h. 17. Feature image credit: Dutch war train http://www.collectienederland.nl/
Background:
- https://www.theatlantic.com/magazine/archive/1949/04/indonesia/643155/
- https://tirto.id/latar-belakang-pembentukan-komisi-tiga-negara-ktn-tugasnya-guTL
- https://ejournal.undip.ac.id/index.php/jscl/article/download/17341/pdf
- https://esi.kemdikbud.go.id/wiki/Komisi_Tiga_Negara_(KTN)
- https://www.kompas.com/stori/read/2021/04/19/184909279/komisi-tiga-negara-latar-belakang-anggota-dan-tugas?page=all




