Si Djamal Gerilja Kota

A Short Story By Mochtar Lubis (1950)

Sejak si Jamal berhenti jadi importeur, tidak pernah aku bertemu-temu lagi dengan dia. Karena itu, sewaktu aku ikut dengan rombongan wartawan yang menyaksikan pemilihan Pemerintah Republik ke Jogja, amatlah girangnya hatiku melihat si Jamal dengan tiba-tiba di Kantor Kepatihan, yang waktu itu dipakai oleh Sultan Jogja sebagai kantor pusat urusan pengembalian Pemerintah Republik. Dia pakai janggut dan kumis. Si Jamal termasuk pada jenis manusia yang berambut dan berbulu panjang. Hingga rupanya sekarang tidak ubahnya seperti seorang kenalanku Singh, penjaga gudang sebuah toko di Djakarta Kota. Tetapi ini tidak aku katakan padanya.

Si Jamal mengepit sebuah snelhechter dari kertas karton, dan didalamnya berisi banyak surat-surat,

“Di sini engkau selama ini? Bagaimana engkau bisa sampai di Jogja? Mengapa engkau menghilang saja?”

Pertanyaan-pertanyaanku mengalir deras. Tetapi si Jamal menarik tanganku dan mengajak berdiri jauh sedikit dari orang-orang lain.

“Aku waktu di Djakarta dapat panggilan untuk menjalankan tugas istimewa di Jogjakarta.”

“Bagaimana engkau bisa sampai kemari?”

“Ah, itu rahasia perjuangan,” katanya tersenyum rahasia.

“Oh,” kataku.

“Aku masuk kerja di Kantor Sociale Zaken yang kebetulan perlu mengirimkan orang ke Jogja,” sambungnya membuka rahasia perjuangannya. “Dan sampai di sini bekerja sebulan lamanya, kemudian aku terus berhenti bekerja. Lari dari kantor, bersembunyi, ikut bergerilya. Bergerilya dalam kota.”

Apa yang engkau lakukan?” tanyaku kembali. Dia memandang menghina padaku.

“Apa yang aku kerjakan? Praktis tidak ubahnya aku ikut bergerilya. Kalau anak-anak bergerilya di luar kota memakai senjata api, maka aku bergerilya di dalam kota memakai otakku melawan musuh. Banyak orang lain seperti aku juga. Ada tiga kolonel TNI tinggal bersembunyi di dalam kota, tidak bergerilya keluar kota, tetapi berjuang di dalam kota, bersembunyi dalam rumah. Dan berpuluh-puluh opsir TNI yang lain, mayor-mayor dan kapten-kapten demikian juga. Dan pemimpin-pemimpin politik yang gagah dari bermacam-macam partai juga menjalankan siasat perjuangan seperti yang aku lakukan. Engkau jangan lekas mencemoohkan orang lain, engkau yang tidak berjuang di Djakarta, Hanya yang berjuang ialah pemimpin-pemimpin di Bangka dan kaum gerilya di luar dan di dalam kota. Malahan Dr. Sukiman, Menteri Dalam Negeri, kemudian juga masuk kota, ikut menjalankan siasat kami.

“Oohhh!” kataku keheranan dan kagum. Aku ini memang macam manusia yang lekas percaya pada manusia.

“Tapi,” kata si Jamal pula, tertawa manis, “tolonglah aku kemeja sebuah. Tidak usah yang baru, bekas-bekas yang engkau pakai saja. Maklumlah… engkau tahu! Nanti aku ceriterakan padamu, bagaimana siasat gerilya dalam kota kami.”

Telah aku katakan tadi, bahwa aku ini orang yang lekas percaya. Mendengar dia bisa menceriterakan siasat gerilya dalam kota, aku pikir, nah, ini kali bisa skup semua kawan-kawan tentang ceritera gerilya yang hebat, biar hilang kemeja sebuah. Aku sudah bayang-bayangkan bagaimana hebatnya ceritera perjuangan subversief beberapa puluh opsir-opsir TNI yang berjuang dalam kota dengan bersembunyi di dalam rumah, dan berpuluh-puluh perjuangan pemimpin rakyat dan para anggota Badan Pekerja KNIP yang selama ini berteriak-teriak hendak mempertahankan kemerdekaan mati-matian, dan sekarang menebus janji mereka pada rakyat dengan bergerilya dalam kota, bersembunyi diam-diam di rumah. Geger juga nanti dibikin ceritera istimewa ini, pikirku. ceritera bagaimana Dr. Sukiman masuk ke dalam kota dari bergerilya di luar untuk menjalankan siasat baru, tetapi sayang dia terlalu lekas tertangkap oleh Belanda dan kemudian dilepaskan kembali, dan akhirnya tidak sempat berjuang terus, karena ditutupnya persetujuan Rum-Royen. Ceritera Tejasukmana, ah… alangkah banyaknya ceritera yang hebat-hebat tentang perjuangan mereka ini. Karena itu aku berkata pada si Jamal, baiklah, datanglah ke kamarku nanti sore di Hotel Merdeka. Dia pergi terburu-buru. Katanya, akan menemui Bung Tomo (masih ingat, bukan, itu bung Tomo dari Pemberontak!) yang katanya juga baru masuk kota, dari bergerilya juga.

Tidak lama setelah si Jamal pergi, aku bertemu dengan seorang sahabat lama di luar kantor Kepatihan.

Tanya bertanya, dan ceritera-berceritera, akhirnya aku tahu pula, bahwa si Jamal selama ini tinggal serumah dengan dia. Tetapi ketika aku menyebut nama si Jamal melompat-lompat dari Republik ke Nica, kemudian ke Republik kembali, dari berinfiltrasi dan berimporteur di Djakarta hingga bergerilya ke dalam kota Jogja, sahabatku itu tertawa pahit. “Pintar betul dia menggonceng nama Dr. Sukiman dan pemimpin-pemimpin Masyumi, PNI, dan sebagainya yang lain itu, itu kolonel-kolonel TNI, kata sahabatku mengejek.

“Mengapa engkau marah padanya?” tanyaku.

“Cih si Jamal,” kata sahabatku itu pula.

“Jangan begitu,” kataku. “Dia ikut subversief, dan bergerilya dalam kota.”

“Ha,” sahabatku tertawa mengejek.

“Tetapi aku percaja,” kataku pula kemudian “Lihatlah pakaiannya sudah usang. Dahulu ketika di Djakarta bajunya gagah terus-menerus. “Ha,” sahabatku itu tertawa mengejek kembali. “Akalnya saja memakai baju usang itu. Jangan engkau tertipu oleh bajunya yang serupa kulit kucing kena kurap itu. Di rumah masih banyak bajunya yang baik. Selama ini dia mencatut terus. Apalagi ketika banyak orang-orang Tionghoa yang ditakuti dan pada evakuasi ke Semarang, maka si Jamal makan tangan. Orang-orang Tionghoa yang pergi itu menjual dengan murah-murah barang-barang mereka, isi toko, gula di gudang, perabotan rumah, entah apa lagi. Si Jamal bergerilya dalam kota. Hah, katanya mengejek. Beginilah si Jamal bergerilya. Pada suatu hari kampung kami digeledah oleh serdadu-scrdadu Belanda. Mereka mencari senjata. Ke rumah masuk tiga orang. Seorang kapten. Baru saja kapten itu masuk ke dalam, si Jamal sudah datang menyongsongnya, seperti orang menyambut tunangan yang sudah lama hilang – Ha, tuan kapten, masuk tuan kapten!

Coba engkau pikir, masa dia beri selamat begitu hebat sama orang yang mau geledah rumah kita. Belum sempat kapten itu mengatakan apa-apa, si Jamal menarik tangannya dan berkata.

“Ini kamar saya tuan kapten,” dan kapten itu ditariknya masuk ke dalam kamarnya. Ini buku saya, tuan kapten, ini tempat pakaian saya, tuan kapten, ini dalam laci meja surat-surat saya, tuan kapten, ini di bawah kasur tidak ada apa-apa, tuan kapten, dan demikian seterusnya ini, tuan kapten, itu, tuan kapten, hingga akhirnya barangkali itu kapten Belanda jadi bosan dan keluar rumah dengan tidak memeriksa kamar-kamar yang lain. Ketika mereka telah pergi dan kami memarahinya mengapa dia bersikap tidak hormat dan merendahkan derajat orang Indonesia seperti mau menjilat-jilat karena ketakutan, si Jamal menepuk dada dan marah pada kami. Katanya, kamu semua bodoh betul, tidakkah karena taktik aku itu rumah tidak jadi digeledahnya? Siapa bilang aku takut? Aku tipu dia. Betul juga dia, rumah tidak jadi digeledah. Hingga kami diam saja.

“Barangkali mungkin dia sengaja pura-pura menjilat-jilat,” kataku.

Sahabatku melihat dengan cemooh padaku.

Dengarlah lagi. Sehari datang seorang lama, majoor TNI dari luar kota. Dia betul bergerilya. Bersembunyi selama dalam kota di rumah kami. Engkau tahu apa kata si Jamal, sedangkan majoor itu baru dua jam di rumah?”

“Tidak,” jawabku, “engkau yang berceritera.”

“Si Jamal memanggil aku, dan mendesak supaya aku suruh pergi majoor TNI itu. Engkau gila, kataku padanya, kita mesti tolong dan bantu dia. Kewajiban kita membantu perjuangan kawan-kawan di luar kota. Si Jamal marah dan mendesak terus. Aku tidak takut kalau aku sendiri yang tertangkap, katanya, tetapi kita sebagai pemimpin rakyat harus punya rasa tanggung jawab yang besar, aku pikirkan keselamatan engkau, isterimu, dan seisi rumah ini; jika sekiranya majoor itu ketahuan oleh Belanda bersembunyi di rumah kita, kita semua habis. Apa untungnya?”

Tetapi aku bantah terus — engkau jangan gila, Jamal, kataku padanya, bagaimana bisa aku usir dia dari rumah ini, meskipun aku sebenarnya merasa takut juga.

Engkau jangan takut, kata si Jamal padaku, katakan pada majoor itu aku yang suruh dia pergi lekas-lekas untuk keselamatan perjuangan kita semua, katakan padanya jika dia tertangkap di rumah ini, maka dia akan merusakkan siasat aku pula, bergerilya dalam kota. Katakan padanya, bahwa dia sebagai opsir, jadi seorang pemimpin, harus pula punya rasa tanggung jawab terhadap orang-orang lain. Karena didesak-desaknya, aku sampaikan pada majoor itu, dan majoor TNI itu seorang baik, dan dia pergi.” “Oh,” kataku.

“Ya, dan jangan engkau percaya, kalau dia berbangga-bangga mengatakan perjuangannya sama dengan perjuangan Dr. Sukiman, Sukarno dan Hatta di Bangka, dan berpuluh-puluh kolonel, majoor dan kapten TNI di dalam kota.”

“Tahu pula engkau,” kataku.

“Kepada siapa yang tidak diceriterakannya,” jawab sahabatku.

Kemudian sahabatku itu pergi. Aku pikir-pikir soal si Jamal ini. Payah aku hendak menyalahkannya. Alasannya cukup kuat.

Tentang tanggung-jawabnya menyuruh majoor TNI itu pergi kuat juga alasannya. Aku sudah bisa dengar jawabnya, jika aku tanyakan: “Tidakkah engkau baca interview Hatta dengan para wartawan dan keterangan Hatta di depan Badan Pekerja KNIP?” dia akan berkata. “Mengapa Sukarno yang selama ini bersumpah-sumpah hendak memimpin gerilya, tidak pergi bergerilya waktu Jogja diserang Belanda tanggal 19 Desember tahun yang lalu? Untuk menjaga keselamatan jiwa Presiden Sukarno! Apa beda Sukarno dengan aku. Kami berjuang dengan cara kami masing-masing. Kami bukan militer yang bertugas bertempur. Tugas kami memelihara jiwa kami untuk meneruskan perjuangan di lapangan lain, Demikianlah Dr. Sukiman, demikian pemimpin-pemimpin Masyumi, dan partai-partai lain, dan anggota-anggota Badan Pekerja, dan berpuluh-puluh itu kolonel, majoor dan kapen-kapten TNI.”

Dan tentu aku tidak akan menyawab. Karena jika dia menganggap perjuangan yang telah dilakukannya itu sama dengan perjuangan yang dilakukan oleh begitu banyak pemimpin-pemimpin rakyat yang selama ini buka mulut besar, siapa aku akan membantah keyakinannya? Dan ketika ceritera ini aku tulis, aku baca pidato Mangunsarkoro dari PNI di Badan Pekerja KNIP menyatakan bahwa partainya menerima Rum van Royen statement sebagai pertukaran taktik kita, karena dalam perjuangan kita telah timbul tingkatan baru, katanya. Pidatonya ini mengingatkan aku akan keterangan si Jamal ketika dia berinfiltrasi dahulu di Djakarta. Ketika aku kritik, mengapa dia bekerja dengan Nica, maka si Jamal berkata juangan ini kita mesti bisa menukar-nukar siasat. Mencocokkan siasat perjuangan dengan keadaan yang bertukar-tukar, Waktu berbambu-runcing, kita berbambu-runcing, waktu teriak “Siap!” kita waktu berontak-berontakan kita waktu mogok kita mogok, waktu waktu zaman rapat-rapat kita rapat-rapat, kita perang, dan jika tidak bisa perang lagi, taktik pula.

Aku bertemu dengan si Jamal di lapangan terbang di Maguwo ketika aku akan kembali ke Djakarta.

Drs. Hatta, ir. Soekarno en Hadji Agoes Salim op het vliegveld van Maguwo – 19 December 1948

“Engkau ikut?” tanyaku.

“Belum,” jawabnya, “tetapi aku akan datang sebentar lagi, tersenyum rahasia, hingga aku bertanya pula.

“Ada apa?”

“Tugas baru,” katanya, menguruskan surat pas, baju, injeksi, uang harian dan jalan anggota-anggota delegasi, penasihat delegasi, dan sebagainya yang akan pergi ke Den Haag.”

Mangkin lama mangkin aku yakin bahwa si Jamal ini sebenarnya amat pintar.


*NICA – Netherlands Indies Civil Administration (Dutch: Nederlandsch-Indische Civiele Administratie

Source: Si Djamal Gerilya Kota (Young Jamal, Urban Guerrilla) is a story from the short story collection of Lubis, Mochtar. Si Djamal : dan tjerita2 lain / oleh Mochtar Lubis Gapura Djakarta 1950, p. 45.

Featured image credit: Drs. Hatta, ir. Soekarno en Hadji Agoes Salim op het vliegveld van Maguwo, korte tijd na het vertrek van Djokjakarta waar ze zijn gearresteerd – http://hdl.handle.net/10648/a8c28f34-d0b4-102d-bcf8-003048976d84 – 19 December 1948

Trending

Discover more with Stories From Indonesia

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue Reading